Jagung Impor Akan Disebar ke Tiga Provinsi Sentra Ternak

CNN Indonesia | Selasa, 06/11/2018 23:26 WIB
Jagung Impor Akan Disebar ke Tiga Provinsi Sentra Ternak Ilustrasi jagung. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah dan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) tengah memetakan lokasi penempatan impor jagung sebanyak 100 ribu ton. Rencananya, jagung impor ini akan ditujukan ke sentra produksi ternak ayam dan telur.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan jagung yang diimpor rencananya akan dialokasikan ke tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Adapun kabupaten yang akan mendapat jatah jagung impor, antara lain Boyolali, Blitar, Kabupaten Bandung.

"Ini sedang kami komunikasikan dengan Bulog agar segera disinkronisasi dengan pemerintah daerah," jelas Oke ditemui di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Selasa (6/11).


Oke tak menyebut negara asal impor jagung tersebut. Menurut dia, keputusan itu akan ditentukan oleh Bulog, termasuk waktu impor dan kualitas jagung.


"Kami hanya menerbitkan Surat Persetujuan Impor (SPI) saja, selebihnya masalah teknis ada di Bulog," paparnya.

Sementara itu, Direktur Pengadaan Bulog Bachtiar enggan berkomentar mengenai detail teknis impor jagung yang akan dilakukan.

"Itu masih belum dibicarakan," jelas dia.

Sebelumnya, pemerintah merestui izin impor jagung sebanyak 100 ribu ton. Impor itu diklaim untuk menjaga keseimbangan harga.


Impor jagung dilakukan untuk memenuhi kebutuhan peternak mandiri dan akan dijual sesuai harga acuan yang ditetapkan Kementerian Perdagangan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018. Di dalam beleid tersebut, harga acuan penjualan jagung ke konsumen adalah sebesar Rp4.000 per kilogram (kg).

Impor jagung ini dilakukan di tengah dilema produksi yang diperkirakan surplus. Berdasarkan data yang dikantongi Kementerian Pertanian, proyeksi produksi jagung hingga akhir tahun ini mencapai 30,4 juta ton.

Proyeksi itu terdiri dari produksi jagung di Pulau Jawa sebanyak 11,6 juta ton dan di Luar Jawa sebanyak 18,4 juta ton. Sementara, konsumsinya secara nasional hanya mencapai 18 juta ton. Artinya, terdapat surplus produksi sebanyak 12,4 juta ton.



(glh/agi)