Rupiah Kuat, Darmin Sebut Asing Mulai 'Pede' Investasi di RI

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 18:50 WIB
Rupiah Kuat, Darmin Sebut Asing Mulai 'Pede' Investasi di RI Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut penguatan rupiah menunjukkan kembali percayanya investor terhadap Indonesia. Menurutnya, pelaku pasar mulai sadar nilai tukar rupiah kemarin berada jauh di bawah nilai fundamentalnya (under value), sehingga mereka berani untuk masuk lagi ke Indonesia.

Nilai mata uang yang terbilang under value diterjemahkan pelaku pasar bahwa indikator domestik Indonesia masih kuat. Alasan ini disebutnya tak mengada-ada karena sejalan dengan hasil riset yang dilakukan lembaga jasa keuangan internasional.

"Modal akhirnya masuk, sehingga rupiah menguat," jelas Darmin di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Rabu (7/11).


Tak hanya itu, sentimen positif juga terjadi di pasar valuta asing. Karena nilai tukar rupiah dianggap sudah under value, maka ada kecenderungan pelaku pasar untuk memborong rupiah dalam jumlah masif. Ketika permintaan rupiah meningkat, tentu berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah. 

Hanya saja, Darmin tak tahu apakah kondisi ini bisa berlanjut. Sebab, kenaikan suku bunga acuan AS Fed Rate diperkirakan masih akan terjadi hingga tahun depan.


"Proses di dunia ini belum berhenti, artinya ini masih bisa berkembang. Kalau kemudian ada perang dagang nanti entah bagaimana, tingkat bunga di Amerika nanti gimana, hal-hal seperti ini yang masih kami belum bisa bilang," jelas dia.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan hal serupa. Menurutnya, ada indikasi bahwa investor sadar faktor fundamental perekonomian Indonesia cukup mumpuni. Terlebih, kemarin Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan petumbuhan ekonomi kuartal III di angka 5,17 persen.

Ini pun, lanjut dia, tidak terlepas dengan kebijakan BI seperti penurunan tarif transaksi swap lindung nilai. Ia berharap, kebijakan BI lain seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) bisa menguatkan lagi nilai tukar rupiah.

Sebagai informasi, DNDF adalah alternatif instrumen yang memungkinkan bank dengan nasabah atau pihak lain untuk melakukan transaksi lindung nilai (hedging) atas risiko nilai tukar.


Ada beberapa aturan main dalam transaksi ini. Pertama, transaksi DNDF wajib dilakukan oleh mereka yang memiliki underlying, seperti perdagangan barang/jasa, investasi, pinjaman dalam bentuk valas, kredit modal kerja.

"Tinggal bagaimana kami melakukan komunikasi yang baik terhadap hal-hal tersebut (kepada pelaku pasar)," ucap dia.

Sementara, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati meminta pemerintah untuk menjaga momen penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Enny, rupiah masih cenderung bergerak fluktuatif, bahkan termasuk dalam salah satu mata uang yang dianggap rentan.

"Yang perlu diantisipasi adalah jangan membuat kebijakan apapun terutama kebijakan ekonomi yang mempunyai dampak sentimen negatif pasar," jelas Enny.


Enny mencontohkan kebijakan pemerintah yang memberi sentimen negatif di pasar adalah pengumuman kenaikan BBM jenis premium yang kemudian batal dalam hitungan menit pada Rabu (10/10) lalu. Ia berharap pemerintah lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan dalam momentum apresiasi rupiah.

"Jangan bikin blunder lagi, itu menjadi sentimen negatif bagi pasar," ujarnya.

Pada perdagangan di pasar spot sore ini, Rabu (7/11), nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.590 per dolar AS, menguat 214 poin atau 1,45 persen dari kemarin sore, Selasa (6/11). Penguatan rupiah hari ini memimpin penguatan mata uang lain di kawasan Asia. Setelah rupiah, baht Thailand menguat 0,33 persen, yen Jepang 0,25 persen, dan dolar Singapura 0,23 persen.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,2 persen, rupee India 0,17 persen, ringgit Malaysia 0,13 persen, dan won Korea Selatan 0,04 persen. Namun, dolar Hong Kong stagnan dan renminbi China melemah 0,04 persen. (ulf/agi)