Daya Beli Buruh Tani Tertekan Harga

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 14:30 WIB
Daya Beli Buruh Tani Tertekan Harga Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agustiyanti).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan daya beli buruh tani dan bangunan menurun pada Oktober 2018 dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini karena daya beli buruh di kedua sektor itu tertekan kenaikan harga atau inflasi sejumlah kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data BPS, rata-rata upah nominal buruh tani yang menyatakan jumlah penghasilan mereka sejatinya meningkat 0,31 persen dari Rp52.665 per orang menjadi Rp52.828 per orang. Namun, rata-rata upah riil yang menyatakan kemampuan beli buruh justru menurun.

"Tapi karena inflasi di pedesaan sekitar 0,35 persen, maka secara riil, upah buruh tani turun 0,04 persen dari Rp38.205 menjadi Rp38.190 per orang," ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Kamis (15/11).


Begitu pula dengan buruh bangunan, rata-rata upah nominal meningkat 0,08 persen dari Rp86.648 menjadi Rp86.717 per orang pada Oktober 2018. Namun, rata-rata upah riil justru turun 0,2 persen dari Rp64.744 menjadi Rp64.618 per orang.

Meski begitu, rata-rata upah buruh potong rambut wanita dan pembantu rumah tangga masih meningkat pada bulan kemarin. Tercatat, upah nominal buruh potong rambut meningkat 0,41 persen menjadi Rp27.137 per kepala, meski upah riil-nya hanya naik 0,13 persen menjadi Rp20.221 per kepala.

Begitu pula dengan upah nominal pembantu rumah tangga yang naik 0,5 persen menjadi Rp401.808 per bulan dan upah riil meningkat 0,22 persen menjadi Rp299.410 per bulan.


Sementara secara nasional, inflasi pada Oktober 2018 sebesar 0,28 persen secara bulanan. Inflasi terjadi karena harga sejumlah pengeluaran meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

"Ada kenaikan tarif sewa rumah 0,03 persen, tarif kontrak rumah 0,01 persen, semen, besi, dan beton 0,01 persen, emas dan perhiasan 0,01 persen, dan bensin 0,06 persen karena kenaikan harga Pertamax," pungkasnya.


(uli/bir)