Kinerja Emiten Barang Konsumsi Mengilap di Kuartal III

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 15:53 WIB
Kinerja Emiten Barang Konsumsi Mengilap di Kuartal III Ilustrasi bursa saham. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Emiten sektor barang konsumsi yang sempat dipandang sebelah mata sebagian pihak beberapa waktu terakhir menunjukkan keperkasaannya pada kuartal III 2018. Kinerja keuangan lima emiten dengan nilai kapitalisasi terbesar di sektor barang konsumsi rata-rata jauh lebih mengilap dibandingkan tahun lalu.

Realisasi ini lantaran tingkat konsumsi masyarakat yang sempat melempem sejak 2016 lalu mulai merangkak pada pertengahan tahun ini. Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), konsumsi masyarakat pada kuartal III 2018 berada di kisaran lima persen secara tahunan (year on year/yoy).

CNNIndonesia.com mencatat lima emiten terbesar di sektor barang konsumsi yang telah merilis laporan keuangannya pada kuartal III 2018, antara lain PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR).


Secara persentase, tingkat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih mayoritas emiten tersebut menyentuh dua digit pada kuartal III 2018. Padahal, pada kuartal III 2016 dan 2017 pertumbuhannya hanya satu digit.

Unilever Indonesia, misalnya. Pada kuartal III 2017 lalu, perusahaan hanya membukukan laba bersih sebesar Rp5,22 triliun atau naik 9,89 persen dari posisi kuartal III 2016, yaitu Rp4,75 triliun. Namun, pada periode yang sama tahun ini, labanya meroket 39,84 persen menjadi Rp7,3 triliun.

Kondisi serupa juga terjadi pada Indofood CBP Sukses Makmur dan Mayora Indah. Pertumbuhan laba bersih masing-masing 14,47 persen dan Mayora Indah sebesar 18,44 persen. Apabila dibandingkan dengan kuartal III 2017 kemarin, laba bersih Indofood CBP Sukses Makmur hanya 7,42 persen dan Mayora Indah 7,15 persen.

Kinerja Emiten Barang Konsumsi Mengilap di Kuartal IIIKinerja keuangan lima emiten sektor barang konsumsi. (CNN Indonesia/Fajrian).

HM Sampoerna dan Kalbe Farma juga mencatat pertumbuhan, meski tak sekencang kawan-kawannya. Laba bersih HM Sampoerna sejak Januari sampai September 2018 meningkat 3,85 persen menjadi Rp9,69 triliun dan laba bersih Kalbe Farma naik 1,69 persen menjadi Rp1,8 triliun.

"Realisasi kinerja ini karena memang ada kenaikan dari daya beli masyarakat, makanya penjualan juga naik, tahun 2017 juga kan inflasi rendah, makanya tahun ini terlihat tinggi karena pembandingnya yang rendah," terang Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi kepada CNNIndoensia.com, Jumat (2/11).

Sebetulnya, ia menilai pelaku pasar telah mengestimasi realisasi kinerja emiten sektor barang konsumsi akan naik signifikan pada kuartal III 2018. Jelas, kondisi ini tak mengejutkan untuk pasar.


Analis Phintraco Sekuritas Rendy Wijaya mengungkapkan kinerja emiten barang konsumsi juga ditopang oleh belanja masyarakat selama Ramadan dan Lebaran kemarin. Seperti diketahui, momen Ramadan dan Lebaran selalu menjadi tumpuan bagi emiten sektor barang konsumsi dan ritel setiap tahunnya.

"Jadi, secara umum memang fundamental dari emiten sektor barang konsumsi untuk tahun ini masih cukup solid," tutur dia.

Terkait perbaikan daya beli masyarakat sendiri, sambung Rendy, juga terlihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga melesat 5,14 persen pada kuartal II 2018 secara tahunan.


"Sudah berhasil meningkat di atas lima persen, meskipun kondisi global cenderung kurang kondusif, untuk fundamental domestik sendiri masih cukup solid ditopang oleh perbaikan konsumsi," papar Rendy.

Selain itu, perbaikan konsumsi masyarakat juga terlihat dari turunnya Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan. Direktur CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan penurunan DPK di perbankan mencerminkan masyarakat mulai membelanjakan uangnya. Sebab, sejak 2016 lalu, masyarakat kelas menengah dan menengah atas memutuskan untuk menahan belanja mereka, sehingga jumlah DPK perbankan terus meningkat.

"DPK di perbankan pada 2016 dan 2017 itu tinggi sekali, tapi pengeluaran mereka rendah," kata Faisal.


Sementara, beberapa waktu terakhir, Faisal menyebut jumlah DPK di perbankan menurun. Mengacu data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan DPK untuk kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 1 atau bank bermodal di bawah Rp1 triliun turun dari 10,6 persen pada September 2017 menjadi 2,2 persen pada September 2018.

Sementara, DPK BUKU 2 atau bank bermodal Rp1 triliun hingga di bawah Rp5 triliun anjlok dari 13,2 persen menjadi 3,1 persen. Selanjutnya, pertumbuhan DPK BUKU 3 hanya 2,9 persen dari sebelumnya 9,9 persen, sedangkan BUKU 4 atau bank modal di atas Rp5 triliun turun dari 18,6 persen menjadi 9,9 persen.

Masa Keemasan Memudar

Sayangnya, masa keemasan emiten barang konsumsi diprediksi memudar karena sejumlah pihak menilai tingkat konsumsi masyarakat ke depannya tak akan setinggi sekarang. Maklum, berbagai tantangan dari luar dan dalam negeri mengganjal hasrat masyarakat untuk membelanjakan uangnya.

Rendy menjelaskan potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada akhir tahun ini dan tahun depan menjadi salah satu yang menurunkan hasrat masyarakat untuk berbelanja. Bila The Fed menaikkan suku bunga acuan, biasanya Bank Indonesia (BI) akan mengikuti dengan mengerek suku bunga acuan demi menjaga gerak mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).


"Kenaikan suku bunga acuan BI ini dapat memicu kenaikan tingkat suku bunga kredit dan menekan pertumbuhan konsumsi," jelas Rendy.

Logikanya, sejumlah perusahaan atau individu akan kembali berpikir ulang jika ingin berutang kepada bank karena tingginya beban bunga yang ditanggung. Belum lagi, kondisi eksternal berupa perang dagang AS dengan China disebut Rendy turut mempengaruhi konsumsi dalam negeri.

Di sisi lain, Faisal berpendapat potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada tahun depan akan memberikan sentimen negatif bagi daya beli masyarakat. Hal itu tak hanya berpengaruh pada sektor transportasi, tapi juga pada produksi pemasok untuk perusahaan barang konsumsi.


"Kalau biaya dari pemasok saja sudah tinggi, berarti nanti perusahaan akan menjual produknya semakin tinggi. Akhirnya kan pengaruhi kemauan orang untuk membeli," ujarnya.

Lalu, tekanan rupiah terhadap dolar AS yang masih terjadi saat ini dan diprediksi berlanjut hingga tahun depan juga menjadi tantangan untuk perusahaan berbasis barang konsumsi.

Bagaimana tidak, depresiasi rupiah akan membuat barang impor semakin mahal karena importir harus membayar lebih mahal untuk membeli barang atau bahan baku dari luar negeri.


"Jadi, mungkin ke depannya kinerja justru stagnan karena kan peningkatan tidak tinggi lagi seperti yang sekarang, atau bahkan bisa menurun," tutur Faisal.

Tak ayal, pergerakan saham emiten sektor barang konsumsi diproyeksi bergerak stagnan atau terkoreksi untuk jangka pendek. Ini sejalan dengan aksi beli pelaku pasar yang diprediksi tak lagi meningkat signifikan seperti sebelumnya.

"Potensi penguatan saham-saham itu cukup terbatas walaupun kinerja perusahaan cukup solid, karena berbagai sentimen negatif masih membayangi emiten," kata Rendy.


Pada pagi ini, Jumat (2/11), tepatnya pukul 11.00 WIB, saham HM Sampoerna terkoreksi 0,55 persen ke level Rp3.630 per saham, Unilever Indonesia meningkat 0,71 persen ke level Rp42.500 per saham, Indofood CBP Sukses Makmur meningkat 0,28 persen ke level Rp8.950 per saham, Kalbe Farma meningkat 0,37 persen ke level Rp1.345 per saham, dan saham Mayora Indah stagnan di level Rp2.570 per saham.


(aud/bir)