Per Oktober, Defisit APBN 1,6 Persen Terendah Sejak 2014

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 19:21 WIB
Per Oktober, Defisit APBN 1,6 Persen Terendah Sejak 2014 Kementerian Keuangan mencatat realisasi defisit APBN per akhir Oktober 2018 sebesar 1,6 persen dari PDB, terendah dalam lima tahun terakhir. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per akhir Oktober 2018 sebesar 1,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), terendah dalam lima tahun terakhir.

Defisit APBN 2018 sendiri dipatok 2,19 persen dari PDB. Selain itu, capaian tersebut lebih rendah dari proyeksi defisit akhir tahun yang berada di kisaran 1,8 persen hingga 1,96 persen terhadap PDB.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan terjaganya defisit tak lepas dari tren perbaikan penerimaan dan belanja negara. Hal ini juga menunjukkan postur APBN 2018 yang kuat dan lebih baik dibandingkan tahun lalu.


"Defisit APBN sampai dengan Oktober 2018 Rp237 triliun angka ini dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp308,3 triliun adalah perbaikan yang sangat tinggi atau terjadi pertumbuhan negatif 23,1 persen," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (15/11).

Per Oktober 2018, realisasi pendapatan negara mencapai sekitar Rp1.483, 9 triliun atau bertumbuh 20,7 persen dibanding periode sebelumnya Rp1.229 triliun. Sementara itu, realisasi belanja mencapai Rp1.720,8 triliun atau tumbuh 11, 9 persen dari tahun sebelumnya Rp1.537,4 triliun.

Di pos penerimaan, penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp1.160,7 triliun melesat 17 persen secara tahunan dengan pencapaian 71,39 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan tercatat hanya 0,5 persen.


"Dibandingkan tahun lalu yang tumbuh nol koma ini capaian yang signifikan," ujarnya.

Selanjutnya, Penerimaan Negara Bukan pajak (PNBP) terus melesat, dengan capaian Rp142 triliun atau 137 persen dibandingkan targetnya Rp103,7 triliun. Hal ini seiring kenaikan harga minyak dunia. Tercatat rata-rata hingga akhir Oktober 2018 mencapai US$69 per barel, lebih tinggi dari asumsi APBN yang hanya sebesar US$48 per barel.

Selain itu, penerimaan bea dan cukai sudah mencapai Rp144, 14 triliun atau 74,26 persen dari target APBN yakni Rp194,1 triliun.


Di sisi belanja, pertumbuhan realisasi belanja pemerintah pusat meningkat 19,6 persen menjadi Rp1.074,4 triliun. Capaian ini membaik dibandingkan tahun lalu yang hanya tumbuh 4,8 persen.

"Outlook belanja sampai akhir tahun diperkirakan akan mencapai 98 persen, " katanya.

Sementara, realisasi transfer ke daerah dan dana desa tercatat Rp646,4 triliun atau melambat dari 6,9 persen menjadi 1,2 persen Hal ini disebabkan oleh penyerapan dana desa yang tidak secepat tahun lalu di mana realisasinya turun 6,5 persen menjadi Rp44, 4 triliun.


Dengan defisit yang menyempit, pemerintah menarik utang lebih sedikit. Hingga Oktober ini, pemerintah menarik utang Rp333,7 triliun atau turun 19,5 persen dari Oktober 2017 yang mencapai Rp414, 7 triliun.


(sfr/bir)