Arcandra Akui Biaya Eksplorasi Migas Tak Sebanding Hasil

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 20:48 WIB
Arcandra Akui Biaya Eksplorasi Migas Tak Sebanding Hasil Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan saat ini kegiatan eksplorasi Migas banyak yang beralih ke wilayah lepas pantai dan dinilai berisiko lebih tinggi dibanding eksplorasi di darat. (CNN Indonesia/Christie Stefanie).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kebutuhan investasi untuk pengelolaan minyak dan gas (Migas) yang semakin bengkak tidak diiringi dengan meningkatnya tingkat kesuksesan pencarian cadangan Migas baru.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan saat ini kegiatan eksplorasi Migas banyak yang beralih ke wilayah lepas pantai dan dinilai berisiko lebih tinggi dibanding eksplorasi di darat. Karenanya, upaya pencarian membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, teknologi yang andal dan dana yang besar.

Arcandra mencontohkan untuk eksplorasi di wilayah laut dangkal dibutuhkan investasi sebesar US$15 juta hingga US$20 juta per sumur atau sekitar Rp220 miliar hingga Rp300 miliar. Sementara itu, eksplorasi di laut dalam membutuhkan biaya hingga US$100 juta atau setara Rp1,5 triliun.


"Misalnya kita sudah berinvestasi untuk empat sumur, berarti Rp6 triliun, kalau tidak ketemu minyaknya, tidak akan kembali Rp 6 triliun itu," ujar Arcandra seperti dikutip dari keterangan resmi, beberapa waktu lalu.



Menurut Arcandra, masalah yang dihadapi Indonesia bukan soal tidak mampu mengelola sumber daya alam (SDA), tetapi tidak semua penemuan dan pengelolaan SDA berujung pada kesuksesan.

"Kami juga harus mengakui adanya gap (kesenjangan) yang cukup besar, baik dari sisi sumber daya manusia (SDM), teknologi maupun pendanaan yang dimiliki," lanjutnya.

Sebenarnya, lanjut Arcandra, Indonesia mampu mempersempit ketimpangan antara kebutuhan SDM dan ketersediaan yang ada. Salah satunya dengan belajar dari orang yang memang mampu dan terbukti ahli mengelola SDA.

"Kalau mau menutup gap dari sumber daya manusia, bukan mengatakan kalau asing tidak boleh masuk. Kita harus terbuka kepada investasi yang masuk sehingga kita bisa belajar untuk mengelola pengelolaan sumber daya alam", ujarnya.


Lebih lanjut, Arcandra mengibaratkan SDM yang dibutuhkan saat ini adalah SDM sekelas pembalap Formula One dalam kejuaraan internasional. Dalam hal ini, kualitas SDM Indonesia harus bisa bersaing di kompetisi global, tidak hanya jago kandang.

"Artinya, dalam pengelolaan SDA, kita harus dapat bersaing dengan investor-investor asing," tegasnya.

Untuk itu, Arcandra meminta mahasiswa, sebagai salah satu SDM yang dimiliki Indonesia, untuk mampu meningkatkan kompetensi diri, sehingga dapat menjadi SDM yang tidak kalah dari bangsa asing. Seseorang bisa disebut kompeten jika mampu memenuhi tiga pilar yaitu ilmu, keahlian, dan pengalaman.


Ke depan, Arcandra berharap sumber daya alam yang ada di Indonesia dapat dikelola oleh bangsa sendiri dan dengan teknologi yang diciptakan oleh bangsa sendiri. Hal ini sesuai dengan cita-cita dan semangat pengelolaan SDA sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 Ayat 2 UUD 1945. (sfr/lav)