Minim Sentimen, Rupiah Melemah Jadi Rp14.602 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 16:44 WIB
Minim Sentimen, Rupiah Melemah Jadi Rp14.602 per Dolar AS Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.602 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (21/11) sore, melemah 15 poin atau 0,1 persen. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.602 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (21/11) sore. Posisi ini melemah 15 poin atau 0,1 persen dari posisi Senin (19/11) di level Rp14.585 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.618 per dolar AS atau melemah dari Senin kemarin di Rp14.586 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama beberapa mata uang, seperti ringgit Malaysia minus 0,18 persen, yen Jepang minus 0,1 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,02 persen. Namun, beberapa mata uang Asia justru berada di zona hijau. Peso Filipina menguat 0,27 prsen, renminbi China 0,11 persen, dolar Singapura 0,09 persen, dan baht Thailand 0,04 persen.



Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang kompak menguat dari dolar AS. Rubel Rusia menguat 0,5 persen, dolar Australia 0,43 persen, euro Eropa 0,28 persen, franc Swiss 0,16 persen, dolar Kanada 0,16 persen, dan poundsterling Inggris 0,09 persen.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan rupiah masih cenderung melemah secara terbatas karena minim sentimen positif dari dalam maupun luar negeri. Sementara indeks dolar AS justru masih menguat secara terbatas.

"Sebenarnya pelemahannya terbatas karena penguatan dolar AS juga cenderung terbatas, setelah ada pandangan dari The Fed terhadap perekonomian AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (21/11).


Menurut Lukman, pandangan bank sentral AS Federal Reserve yang mulai khawatir dengan ekonomi Negeri Paman Sam akibat melambatnya ekonomi global memang sempat memberi persepsi kepada pasar bahwa The Fed akan mempertimbangkan kenaikan bunga acuannya.

Di sisi lain, pasar tetap yakin The Fed akan mengerek bunga acuan pada Desember mendatang dan tahun depan sesuai dengan rancangan kebijakan normalisasi moneter yang telah dibuat.

"Tapi ini sudah terlanjur di-price in juga, jadi mungkin hanya mengurangi antusias, tapi tidak berubah," imbuhnya.


Sentimen dari Eropa juga mereda, meski belum ada tindak lanjut, yaitu rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Britania Exit/Brexit) dan defisit anggaran pemerintah Italia. Sari dalam negeri, juga belum ada sentimen baru yang berhasil mempengaruhi laju rupiah.

"Kemarin memang pasar sempat merespons paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan, tapi sebenarnya yang seperti ini tidak besar pengaruhnya karena bukan hal yang fundamental, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga neraca perdagangan," pungkasnya. (uli/lav)