Operasi Beras Bulog, Sudah Diminta Lama Tapi Baru Dilakukan

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 15:13 WIB
Operasi Beras Bulog, Sudah Diminta Lama Tapi Baru Dilakukan Ilustrasi beras. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan sudah meminta Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) melakukan operasi pasar untuk mengantisipasi kenaikan harga komoditas beras.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahja Widjayanti mengatakan permintaan operasi pasar dari Kemendag sudah disampaikan sejak lama. Sayangnya, operasi pasar yang diminta baru resmi dilakukan Perum Bulog mulai Kamis kemarin (22/11).

"Sudah (komunikasi dengan Bulog), Pak Menteri Perdagangan (Enggartiasto Lukita) sudah kirim surat dari lama, tapi mungkin kan memang baru sempat dilakukan," ujar Tjahja di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (23/11).


Selain permintaan tersebut, Kemendag kata Tjahja juga telah meminta Bulog untuk langsung berkoordinasi dengan tiap pasar induk, termasuk Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya (Food Station).


Setelah meminta, Tjahja bilang, kementeriannya tidak ikut campur mengenai berapa banyak jumlah pasokan yang harus digelontorkan Bulog dalam operasi pasar. Begitu pula dengan perkiraan kebutuhan tiap-tiap pasar induk.

"Sesuai kemampuan (pasokan Bulog) saja, misal DKI Jakarta itu ada Food Station, itu dia katanya mengajukan 100 ribu ton, minta dicicil sampai Maret 2019," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan komunikasi dari kementeriannya kepada Bulog merupakan bentuk antisipasi kenaikan harga beras jelang libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Kemendag  sudah memantau beberapa daerah rawan terjadi kenaikan harga. 

Temuan Kementerian Perdagangan, setidaknya ada tujuh daerah yang rawan kenaikan harga beras karena adanya potensi kenaikan permintaan dari masyarakat jelang libur akhir tahun. Daerah tersebut adalah; Sumatra Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Papua, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.


Selain itu, Kemendag juga menemukan adanya daerah yang perubahan kenaikan harganya (volatilitas) cukup signifikan, misalnya; DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Daerah-daerah ini kami pantau terus jadi nanti kalau misalnya ada pergerakan atau gejolak, kami langsung penetrasi," ucapnya.

Tjahja menyebut hasil pemantauan kenaikan rata-rata harga beras di beberapa daerah sejatinya baru sekitar Rp100-200 per kilogram (kg) atau sekitar 0,3 persen dari harga pada awal bulan.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga beras meningkat 1,5-2 persen dari 1 November hingga 23 November 2018. Tercatat, harga beras berada di rentang Rp9.750-13.800 per kg pada awal bulan dengan harga terendah ada di Sulawesi Selatan dan harga tertinggi di Sumatra Selatan.

Per hari ini, harga beras berada di rentang Rp9.900-14.100 per kg. Harga terendah terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan harga tertinggi di Sumatra Selatan.

Perum Bulog mengelar operasi pasar mulai Kamis kemarin. Jumlah beras yang digelontorkan dalam operasi pasar tersebut sebanyak 100 ribu ton. Beras yang digelontorkan merupakan beras kualitas medium.


Bulog menyatakan akan terus mengadakan operasi pasar. Mereka berencana menggelontorkan 2.000 ton beras per hari dalam operasi pasar tersebut.

"Insya Allah dengan kami mulai (operasi pasar) hari ini di Cipinang yang menguasai 20 persen beras di seluruh Indonesia, saya kira ini akan mempengaruhi harga yang ada," ungkap Direktur Operasional dan Pelayanan Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh. (uli/agt)