Kerek Harga CPO, Konsumsi FAME 2019 untuk B20 Naik 58 Persen

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 15:22 WIB
Kerek Harga CPO, Konsumsi FAME 2019 untuk B20 Naik 58 Persen Ilustrasi. (Mike Blake).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah menargetkan konsumsi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai campuran Solar untuk B20 meningkat menjadi 6,20 juta kiloliter (KL) di tahun 2019. Target itu meningkat 58,16 persen dari target konsumsi FAME tahun ini sebesar 3,92 juta KL untuk sektor kegiatan penugasan pemerintah (PSO) dan non-PSO.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana menuturkan upaya ini dilakukan untuk mengerek harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) global yang tengah merosot. Harapannya, dengan memaksimalkan konsumsi dalam negeri, maka pasokan CPO global berkurang sehingga harga berangsur naik.

Untuk diketahui, harga CPO kontrak acuan Derivatif Malaysia per Jumat (23/11) amblas ke RM2.044. Padahal harga CPO di awal bulan berada di RM2.144.


"Kenapa harga CPO turun, salah satunya karena suplai lagi bagus. Salah satu jalan keluar (untuk menaikkan harga CPO) adalah dengan meningkatkan konsumsi dalam negeri," kata Rida di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (26/11).


Selain itu, Ditjen EBTKE juga mencatat potensi penggunaan FAME pada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebesar 700KL. Sementara itu, realisasi penyaluran FAME untuk bahan baku B20 mencapai 2,42 juta KL per 24 Oktober 2018. Itu artinya, penyaluran FAME mencapai 60 persen dari target tahun ini 3,92 juta KL mencakup sektor PSO dan non PSO.

"Secara overall ada kenaikan konsumsi FAME 2019 kurang lebih 3 juta KL, dibandingkan dengan 2018. Kami berharap kenaikan konsumsi ini ujungnya membantu petani sawit kita," imbuhnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo Presiden Joko Widodo telah mengakui pemerintah kesulitan untuk mendongkrak harga CPO. Namun demikian, bukan berarti pemerintah berpangku tangan.


Pemerintah menempuh berbagai cara untuk mengerek harga komoditas sawit. Salah satunya mengirimkan tim untuk menyelesaikan kampanye hitam dan hambatan ekspor sawit ke Uni Eropa, sehingga ekspor sawit ke kawasan tersebut bisa ditingkatkan sekaligus meningkatkan harga.

Di samping itu, pemerintah juga telah meminta China untuk menambah jumlah pembelian sawit Indonesia. Permintaan tersebut disampaikan Joko Widodo langsung sampaikan ke Perdana Menteri China Li Keqiang beberapa waktu lalu. (ulf/agi)