Rupiah Menguat, PLN Harap Tak Rugi di Akhir Tahun

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 20:47 WIB
Rupiah Menguat, PLN Harap Tak Rugi di Akhir Tahun Direktur Utama PLN Sofyan Basyir menjelaskan kurs yang menguat disertai pelemahan harga minyak dapat mengurangi beban operasional perusahaan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT PLN (Persero) berharap penguatan rupiah dan pelemahan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir bisa membantu perusahaan tak merugi di akhir tahun. Per kuartal III 2018, PLN mencatatkan rugi sebesar Rp18,46 triliun.

Direktur Utama PLN Sofyan Basyir menjelaskan kurs yang menguat disertai pelemahan harga minyak dapat mengurangi beban operasional perusahaan. Apalagi, bahan bakar dan pelumas merupakan dua komponen beban terbesar PLN hingga kuartal III kemarin.

Selain itu, penguatan rupiah juga bisa memperbaiki nilai liabilitas perseroan di laporan keuangan. Sebab, dengan kurs yang lebih baik, maka selisih angka utang dalam denominasi rupiah di tahun lalu hingga tahun ini bisa ditekan.


Selisih angka itu disebut sebagai beban kurs dan menjadi faktor pengurang pendapatan operasional. Dengan kata lain, jika beban kurs terpangkas, maka PLN bisa perlahan keluar dari rugi kurs.

"Sebetulnya kondisi ini (pelemahan harga minyak dan penguatan nilai tukar) lebih baik dalam arti operasional. Kami bisa lebih baik karena kemarin kan kami rugi kurs, ini justru akan mengurangi (rugi kurs tersebut)," ujar Sofyan, Selasa (27/11).


Kendati demikian, Sofyan belum bisa menyebut nilai pengurangan beban operasional tersebut lantaran penguatan kurs dan pelemahan harga minyak baru terjadi kira-kira tiga pekan belakangan. Dengan perbaikan dua indikator ini, PLN kemungkinan juga tidak akan meminta penyesuaian tarif listrik kepada pemerintah.

Sejatinya, Menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 41 Tahun 2017, harga minyak Indonesia (ICP) dan kurs menjadi dua indikator pembentuk tarif listrik. Dengan demikian, jika kedua indikator itu bisa ditangani, tarif listrik tidak akan mengalami perubahan.

"Selain itu, pemakaian pembangkit bertenaga BBM di PLN juga turun dari 2014 silam sebesar 14 persen, sekarang di kisaran 5 hingga 6 persen. Itu salah satu langkah efisiensi sehingga kami tak perlu tarriff adjustment," imbuh dia.


Adapun hingga kuartal III kemarin, PLN membukukan kenaikan pendapatan operasional sebanyak Rp200,91 persen atau naik 6,9 persen dari tahun lalu Rp187,88 triliun. Hanya saja, beban operasional tercatat Rp224,01 triliun atau naik 11,82 persen dibanding tahun sebelumnya Rp200,37 triliun.

Hasilnya, perusahaan membukukan rugi Rp18,46 triliun hingga kuartal III lalu.

Menurut data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, hari ini rupiah tercatat di angka Rp14.504 per dolar AS atau membaik ketimbang pertengahan Oktober kemarin yang menembus Rp15.200 per dolar AS.

Sementara itu, harga minyak dunia Brent tercatat di angka US$60,48 per barel pada penutupan Senin (26/11). Harga minyak kian merosot dari posisi US$80 per barel yang tercatat pada pertengahan Oktober silam. (sfr/agi)