"Sudah berpuluh tahun problem besar adalah CAD (current account defisit/defisit transaksi berjalan). Kita tahu tapi tidak pernah mengeksuksi masalah ini. Baru dua tahun terakhir saya terus konsentrasi di sini," ujar Jokowi dalam CEO Networking 2018 di Jakarta, Senin (12/3).
Jokowi menjelaskan Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya alam melimpah, mulai dari batu bara, bauksit, sawit, dan sebagainya. Di sisi lain, Indonesia masih kerap mengimpor produk turunan SDA tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak heran, menurut dia, defisit transaksi berjalan terus membengkak. Puncaknya, pada kuartal III 2018 lalu, defisit transaksi berjalan mencapai US$4,4 miliar atau 3,37 persen PDB, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya 3,03 persen terhadap PDB.
Jokowi mengakui defisit transaksi berjalan yang besar saat ini merupakan akibat kealpaan pemerintah membangun industri dan hilirisasi. Padahal, menurut dia, jika industriliasasi dilakukan sejak beberapa tahun lalu, produk domestik bruto (PDB) Indonesia bisa meningkat hingga empat kali lipat.
"Kalau kita sejak dulu membangun industri alumina, maka impor tidak perlu terjadi dan mempengaruhi CAD. Kita keenakan kirim (ekspor) bahan mentah, terus dapat uang," ungkap dia.
Saat ini, menurut dia, pemerintah tengah konsen menerapkan sejumlah kebijakan guna mendorong industrilalisasi dan menekan defisit transaksi berjalan. Salah satunya pada industri sawit.
"Indonesia saat ini produsen sawit terbesar di dunia. Produksi 42 juta ton, untuk itu diusahakan hilirisasi dalam bentuk biosolar. Kami wajibkan penggunaan B20, setelah itu B80 dan B100. Ini akan mengurangi CAD karena impor solar bakal berkurang dan dihilangkan," terang Jokowi.
Pemerintah, menurut Jokowi, juga tengah mendorong hilirisasi produk nikel. Jika hilirisasi berjalan, menurut dia, nilai tambah dari produk tersebut bisa meningkat hingga empat kali lipat.
"Untuk itu saya mengajak seluruh CEO, agar sektor riil segera industrialisasi dan hilirisasi. Setop ekspor bahan baku mentah," pungkasnya. (aud/agi)