Eni Sepakat Gunakan Skema Gross Split untuk Lapangan Marakesh

CNN Indonesia | Rabu, 05/12/2018 08:51 WIB
Eni Sepakat Gunakan Skema Gross Split untuk Lapangan Marakesh Ilustrasi blok migas. (www.skkmigas.go.id)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan operator Lapangan Marakesh ENI Indonesia Ltd telah menyepakati untuk mengubah skema bagi hasil produksi (Production Sharing Cost/PSC) dari skema biaya pengembalian produksi (cost recovery) menjadi gross split untuk mengembangkan Lapangan Marakesh.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyatakan perusahaan minyak Pemerintah Italia itu mempertimbangkan tiga hal saat mengubah kontraknya menjadi gross split. Pertama, proses yang lebih efisien. Pasalnya, skema bagi hasil gross split memudahkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk melakukan pengadaan barang dan jasa sendiri sehingga lebih efisien.


Kedua, kepastian besaran hasil yang akan diterima KKKS karena dilakukan dengan cara menghitung sendiri. Ketiga, proses yang sederhana mengingat KKKS tidak perlu lagi melakukan diskusi panjang masalah biaya dengan SKK Migas.


"Kami menargetkan rencana pengembangan (Plan of Development/POD) disetujui dan juga PSC kontraknya diamandemen paling lambat sebelum tanggal 12 Desember 2018 sudah selesai. Intinya proses pengalihan dari PSC cost recovery kepada gross split itu bisa berlangsung dengan sangat cepat. Mereka mengajukan, dan kami proses kurang dari sebulan," ujar Arcandra dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (5/12).


Kontrak Blok East Sepinggan, Kalimantan Timur (Lapangan Marakesh) ditandatangani pada 20 Juli 2012 dan akan berakhir pada 19 Juli 2042. Dengan perincian pekerjaan, 10 tahun eksplorasi dan sisanya 20 tahun produksi. Komposisi saham pengembangan Blok East Sepinggan terdiri dari 85 persen ENI dan 15 persen Pertamina Hulu Energi East Sepinggan.

Dari hasil eksplorasi yang dilakukan ENI, Lapangan Marakesh diprediksi memiliki cadangan gas mencapai 814 triliun cubic feet (tcf) yang direncanakan on stream pada tahun 2021 dengan laju produksi awal sebesar 155 Million standard cubic feet per day (mmcfd) dan laju produksi puncaknya sebesar 391 mmcfd. (sfr/agi)


BACA JUGA