Menko Darmin Geram Ada Oknum Impor Migas 'Jor-joran'

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 06:35 WIB
Menko Darmin Geram Ada Oknum Impor Migas 'Jor-joran' Menko Perekonomian Darmin Nasution menyebut ada satu oknum yang masih mengimpor BBM dalam jumlah besar dan menyebabkan nilai impor migas membengkak. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut ada satu oknum yang masih mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam jumlah besar dan menyebabkan nilai impor minyak dan gas (migas) membengkak. Padahal, pemerintah tengah berupaya menekan defisit neraca perdagangan.

Darmin mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Kendati begitu, Darmin tak mau menyebut oknum yang dimaksud. Ia hanya mengatakan telah mengenali pihak yang mengimpor BBM dalam jumlah besar tersebut, tanpa mengetahui motif sesungguhnya.

"Kami tahu siapa yang impornya malah naik dalam situasi seperti ini. Semuanya (impor minyak) malah turun, hanya dia saja yang naik," kata Darmin, Rabu (28/11).



Ia menuturkan kelakuan oknum ini memupus harapan pemerintah untuk menekan impor migas melalui kebijakan pencampuran 20 persen biodiesel terhadap BBM, atau biasa disebut B20. Padahal, semula kebijakan ini diharap bisa menghemat impor migas sebesar US$2 miliar hingga US$2,5 miliar hingga akhir tahun.

Namun, Darmin tak memungkiri implementasi B20 masih jauh dari kata sempurna. Ia menyebut permasalahan distribusi logistik menjadi pangkal utama dari kebijakan B20 yang tidak optimal.

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini berkisah titik pencampuran B-20 terbilang cukup banyak, yakni mencapai 100 titik di seluruh Indonesia. Jika titik pencampuran terlalu banyak, maka diperlukan juga kapal logistik dengan jumlah yang tak sedikit, baik untuk mengantar Fatty Acid Methyl Ester (FAME) ke titik-titik tersebut atau mengantar Solar B-20 ke terminal BBM.


Untuk itu, Darmin sempat meminta PT Pertamina (Persero) mengurangi titik pencampuran biodiesel dari semula 100 menjadi hanya 11 titik. Namun, Pertamina menawar agar lokasi pencampuran bukan 11 titik, melainkan 24 titik.

"Tapi nanti rencananya titik pencampuran akan menjadi 11 mulai Januari mendatang. Kalau titiknya segitu, kapal masih tersedia," pungkas Darmin.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan US$5,51 miliar hingga Oktober 2018 kemarin. Hal ini juga dikontribusi dari impor migas yang tercatat US$24,96 miliar atau melonjak 27,67 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya US$19,55 miliar.

(glh/lav)