Luhut Bakal Terbang ke Polandia untuk Negosiasi Sawit

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 10:50 WIB
Luhut Bakal Terbang ke Polandia untuk Negosiasi Sawit Menko Luhut Binsar Panjaitan akan terbang ke Polandia untuk meyakinkan dukungan Uni Eropa terhadap produk minyak kelapa sawit RI. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan akan kembali meyakinkan Uni Eropa untuk mendukung produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dari Indonesia.

Sebelumnya, Uni Eropa telah menunda pelarangan CPO sebagai bahan campuran biofuel hingga 2030 lewat Arahan Energi Terbarukan Uni Eropa (RED II).
Kesepakatan itu menggantikan rancangan sebelumnya yang akan menghapus minyak kelapa sawit sebagai bahan dasar biofuel pada 2021.

Rencananya, Luhut bersama tim akan berangkat minggu depan. "Kami nanti lobi lagi, saya akan pergi ke Polandia. Salah satu tugas saya untuk meyakinkan mereka," ujar Luhut di kantornya, Kamis (6/12).


Luhut mengatakan Uni Eropa masih mempersoalkan isu lingkungan terkait CPO. Padahal, lanjutnya, Indonesia telah berupaya untuk mengurangi isu lingkungan lewat moratorium perluasan lahan dan evaluasi perkebunan kelapa sawit.

Moratorium ini diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 19 September 2018 silam.

Pemerintah menegaskan penghentian sementara ini berlaku selama tiga tahun.


"Kami sudah tidak membuat pelebaran (lahan sawit). Kami juga memperbaiki 41 persen lahan sawit small holder (lahan sawit milik rakyat)," kata Luhut.

Pemerintah sempat menyebut Uni Eropa telah melayangkan kampanye hitam atas produk sawit Indonesia.

Mulanya, Uni Eropa mengesahkan proposal bertajuk Report on the Proposal for A Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources dalam pemungutan suara di kantor Parlemen Eropa, Perancis, Rabu (17/1) silam.


Meskipun kebijakan itu telah direvisi dan ditunda hingga 2030. Proposal energi tersebut mengatur bahwa negara Uni Eropa akan menggunakan sedikitnya 35 energi terbarukan dari keseluruhan penggunaan energi pada 2030.

Tak hanya itu, proposal tersebut juga menghapus dan tidak lagi menganggap produk biodisel atau bahan bakar yang berasal dari makhluk hidup dan tanaman, seperti kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan.

Dengan begitu, penjualan serta penggunaan produk sawit di Eropa akan semakin terbatas. Padahal, Eropa selama ini menjadi importir terbesar minyak sawit Indonesia.


(ulf/bir)