Investor AS Serbu Obligasi Valas Pemerintah

CNN Indonesia | Kamis, 13/12/2018 09:58 WIB
Investor AS Serbu Obligasi Valas Pemerintah Kementerian Keuangan menyebut investor AS menjadi peminat utama SBN dalam bentuk valas yang diterbitkan pemerintah 4 Desember lalu. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan menyebut investor asal Amerika Serikat (AS) sebagai peminat utama Surat Berharga Negara (SBN) dalam bentuk valuta asing (valas) yang diterbitkan pemerintah pada 4 Desember lalu. Penerbitan SBN valas ini ditujukan untuk pembiayaan anggaran tahun depan atau biasa disebut pre-funding.

Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, pekan lalu Kemenkeu menarik SBN valas senilai US$3 miliar. SBN valas terdiri dari tiga seri, yakni RI0224 dengan tenor lima tahun sebesar US$750 juta, RI0229 dengan tenor 10 tahun dengan nilai US$1,25 miliar, dan RI0249 dengan tenor 30 tahun dengan nilai US$1 miliar.

Untuk seri RI0224, sebanyak 55,6 persen investor berasal dari AS. Tak hanya seri 0224, SBN Valas dengan seri RI0229 dan RI0249 juga paling banyak diminati investor AS, dengan porsi masing-masing 43,6 persen dan 44 persen dari semua total investor.


Setelah AS, investor asal Asia menjadi peminat terbanyak kedua surat utang Indonesia. Untuk seri RI0224, investor Asia tercatat 15,6 persen dari seluruh total investor. Sementara, untuk seri RI0229 dan RI0249, investor Asia masing-masing tercatat 33,5 persen dan 38,2 persen.

Sementara jika dilihat dari jenis investor, sebagian besar peminat SBN valas pemerintah kemarin berasal dari penempatan dana yang dilakukan manajemen aset. Kemudian, investor terbesar kedua juga berasal dari bank serta institusi asuransi atau dana pensiun.

Sekadar informasi, pekan lalu pemerintah menerbitkan SBN valas dengan tujuan pre-funding yang didasari atas beberapa hal.


Antara lain, pemerintah mengambil momentum kondisi pasar yang kondusif pasca Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara G-20 pada pekan lalu. Sehingga, pemerintah bisa mengakses dolar AS lebih cepat.

Selain itu, dengan mengambil kesempatan pasar modal yang tengah membaik, maka imbal hasil (yield) bisa lebih ketat, sehingga risiko pembiayaan pemerintah juga bisa ditekan.

Di dalam penerbitan ini, imbal hasil untuk SUN seri RI0224, RI0229, dan RI0249 masing-masing tercatat 4,48 persen, 4,78 persen, dan 5,38 persen. Angka ini sendiri lebih rendah 27 basis poin, 32 basis poin, dan 27 basis poin dari penawaran harga awal.


Penerbitan SUN ini akan dicatatkan pada Bursa Efek Singapura dan Bursa Efek Frankfurt. Penjamin emisi utama dalam penerbitan ini adalah ANZ, Citigroup, DBS Bank Ltd., Deutsche Bank dan Goldman Sachs (Singapore) Pte.

Sementara itu, PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk bertindak sebagai co-managers.

Berdasarkan data APBN 2019, pemerintah berniat menarik pembiayaan netto dari SBN sebanyak Rp389 triliun. Ini demi menutupi defisit APBN tahun depan yang diperkirakan mencapai 1,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).


(glh/bir)