BI Ingin Uang Elektronik Lahir di Daerah

CNN Indonesia | Jumat, 14/12/2018 20:15 WIB
BI Ingin Uang Elektronik Lahir di Daerah Ilustrasi uang elektronik. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) ingin perusahaan penyedia jasa sistem pembayaran uang elektronik tidak hanya lahir dari pusat kota, tetapi juga dari daerah. Harapannya, penetrasi penggunaan uang elektronik bisa bertumbuh secara merata.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Onny Widjanarko mengatakan berdasarkan data, pembayaran tunai masih mencapai sekitar 76 persen dari total transaksi pembayaran di Indonesia.

"Ini menunjukkan bahwa pasar (transaksi nontunai) masih besar. Selain itu, distribusi pemain masih lebih banyak di pusat, daerah belum. Makanya, kami senang kalau ada pemain daerah yang mau ikut," ujar Onny di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (14/12).


Menurutnya, kehadiran pemain uang elektronik dari daerah perlu ditingkatkan karena mereka yang sebenarnya lebih mengetahui bagaimana kondisi ekonomi di daerah masing-masing. BI juga mengaku tidak membatasi kehadiran pemain uang elektronik dari daerah.

"Jumlah pemain tidak kami batasi, tapi biasanya akan ada fase seleksi alam, di mana mungkin nanti ada konsolidasi dan merger. Tapi ini tidak apa," katanya.


Saat ini, menurut Onny, kondisi infrastruktur untuk mengembangkan transaksi uang elektronik berbeda-beda. Ia membaginya dalam empat kondisi.

Pertama, ada daerah yang sebenarnya sudah memiliki infrastruktur sistem pembayaran yang mumpuni dan pendapatan masyarakat yang tinggi.

"Ini berarti transaksi nontunai setidaknya sudah cukup tinggi," imbuhnya.

Kedua, daerah dengan infrastruktur pembayaran yang cukup bagus, namun pendapatan masyarakatnya tidak begitu tinggi. Ketiga, daerah dengan infrastruktur pembayaran yang tidak begitu mumpuni, tapi pendapatan masyarakat cukup tinggi.

"Keduanya berarti pembayaran nontunai bisa ditingkatkan, karena biasanya masih lebih tinggi pembayaran tunainya," terangnya.


Keempat, daerah dengan infrastruktur pembayaran dan pendapatan masyarakat yang minim. "Ini yang perlu kerja keras, tapi tidak apa, justru harus dibangun," ungkapnya.

Sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mengaku membuka pintu bagi pemain di daerah yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya untuk meluncurkan uang elektronik.

SVP Divisi E-Banking BNI Diyah Permata Widiastuti menjelaskan saat ini perbankan banyak menggandeng pihak toko (merchant) di daerah agar transaksi dengan uang elektronik meningkat. Salah satunya, dengan menggandeng para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Kami mendukung UMKM untuk masuk ke sistem pembayaran nontunai, karena dengan begitu konsumen UMKM tidak akan terbatas," jelasnya. (uli/agi)