Anomali Sentimen, Rupiah Terus Melemah terhadap Dolar AS

CNN Indonesia | Senin, 10/12/2018 16:50 WIB
Anomali Sentimen, Rupiah Terus Melemah terhadap Dolar AS Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.553 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Senin (10/12). Posisi ini melemah 73 poin atau 0,5 persen dari perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (7/12).

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.517 per dolar AS atau menguat dari akhir pekan lalu di Rp14.539 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama mayoritas mata uang lainnya, seperti rupee India yang melemah 0,74 persen, won Korea Selatan minus 0,63 persen, dan renminbi China minus 0,55 persen.



Lalu, ringgit Malaysia minus 0,14 persen, peso Filipina minus 0,12 persen, dolar Singapura minus 0,04 persen, yen Jepang minus 0,01 persen, dan baht Thailand minus 0,01 persen. Hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,03 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru menguat terhadap dolar AS. Rubel Rusia menguat 0,32 persen, dolar Australia 0,27 persen, franc Swiss 0,23 persen, euro Eropa minus 0,23 persen, dan dolar Kanada minus 0,06 persen. Hanya poundsterling Inggris yang melemah 0,1 persen dari mata uang Negeri Paman Sam.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi memperkirakan pelemahan rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam sedikit dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar atas keputusan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang akan kembali memangkas produksi minyak mentah dunia.


Hal ini dilakukan demi menambah potensi kenaikan harga minyak mentah, setelah menurun dalam beberapa waktu terakhir.

"Tapi kalau harga minyak naik, ada kekhawatiran kepada defisit neraca perdagangan Indonesia, ini bisa menambah potensi lagi," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/12).

Kendati demikiian, pelemahan nilai tukar rupiah hari ini sejatinya cukup anomali. Sebab, menurutnya, sentimen yang ada seharusnya bisa membuat mata uang Garuda setidaknya berada di zona hijau.


Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hanya sekitar 1,86-1,87 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah dari asumsi awal sebesar 2,19 persen terhadap PDB.

Lalu, rilis cadangan devisa Indonesia turut meningkat US$2 miliar menjadi US$117,2 miliar pada November 2018, setelah beberapa bulan terus merosot dari posisi awal US$131,98 miliar.

"Ini kondisi anomali. Mungkin memang kisaran Rp14.500 per dolar AS merupakan area konsolidasi, di mana pelaku pasar perlu diyakinkan lagi bahwa rupiah memang menjanjikan ke depannya," ujar Dini.


Begitu pula dari luar negeri, indeks dolar AS sebenarnya tengah mendapat sentimen negatif dari rilis data ketenagakerjaan yang disampaikan Departemen Tenaga Kerja AS. Penciptaan lapangan kerja tercatat mencapai 155 ribu pada November lalu. Angka itu di bawah ekspektasi pasar yang mencapai kisaran 200 ribu.

Selain itu, imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury juga kembali menurun. Tak ketinggalan, sinyal meredanya keagresifan bank sentral AS, The Federal Reserve, juga masih menyelimuti pasar. Pasar bahkan sempat berekspektasi bahwa The Fed tidak mengerek bunga acuannya pada tahun depan.

"Dolar AS sebenarnya lagi banyak sentimen negatif, jadi seharusnya tidak terlalu memberi tekanan ke rupiah," katanya. (uli/lav)