Menaker : BLK Kemnaker Tak Kalah dengan Taiwan

Kemnaker, CNN Indonesia | Sabtu, 15/12/2018 23:53 WIB
Menaker : BLK Kemnaker Tak Kalah dengan Taiwan Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri bangga karena peralatan yang dimiliki BLK milik Kemnaker tidak kalah dengan peralatan di Training Centre Taoyuan, Taiwan. (Dok. Kemnaker)
Jakarta, CNN Indonesia -- Usai menghadiri penandatanganan nota kesepahaman antara pemerintah Indonesia dan Taiwan mengenai perekrutan, penempatan, dan perlindungan pekerja migran Indonesia, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri berkunjung ke training centre (Balai Latihan Kerja/BLK) Taoyuan, Taiwan.

Dalam kunjungannya, Hanif merasa bangga karena peralatan yang dimiliki BLK milik Kemnaker tidak kalah dengan peralatan di Training Centre Taoyuan.

"BLK Kemnaker memiliki peralatan yang bagus-bagus juga, sesuai dengan kebutuhan industri," kata Hanif usai mengunjungi Training Centre Taoyuan pada Jumat (14/11) waktu setempat.


Namun, saat kunjungan tersebut, Menaker mempelajari hal baru yakni pentingnya memperhatikan kondisi psikologis peserta pelatihan untuk keberhasilan pelatihan.

"Tidak hanya fokus belajar, peserta juga diberi berbagai fasilitas hiburan untuk menyegarkan kembali pikiran mereka usai mengikuti pelatihan di kelas," ujar Hanif.

Selain itu, Menaker juga kagum dengan program pelatihan bakery yang menghabiskan waktu 600 jam hanya untuk belajar bakery.

"Artinya harus fokus dan mendetail, sehingga semua bidang dari kejuruan tersebut dipelajari dengan baik. Ini hal bagus yang patut kita contoh dan kembangkan di BLK kita," lanjutnya.

Menaker mengatakan, saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi dan akan mencapai puncaknya pada 2030.

"Bonus demografi memiliki dua pilihan, berkah atau tantangan. Menjadi berkah kalau kualitas SDMnya sesuai dengan perkembangan zaman, menjadi tantangan jika kurang dipersiapkan secara matang menghadapi perubahan zaman," ujar Hanif.

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas SDM dengan memperbaiki akses dan mutu terhadap pelatihan kerja.

"Sekarang siapa saja boleh ikut pelatihan, tidak ada batasan pendidikan dan usia," tutur Hanif.

Selain itu, pemerintah juga menggalakkan program triple skilling.

"Ada skilling untuk mereka yang ingin mempelajari keterampilan baru, up-skilling bagi yang ingin meningkatkan kompetensi, dan re-skilling bagi yang ingin mengubah keterampilan yang sudah dimiliki," pungkasnya. (stu)