Sentimen The Fed Bawa Rupiah Menguat ke Rp14.501 per Dolar AS

CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 16:56 WIB
Sentimen The Fed Bawa Rupiah Menguat ke Rp14.501 per Dolar AS Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.501 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa sore (18/12). Posisi ini menguat 79 poin atau 0,54 persen dari Senin kemarin (17/12) di Rp14.580 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.523 per dolar AS atau menguat dari kemarin di Rp14.617 per dolar AS.

Setelah menguat tipis kemarin, penguatan rupiah hari ini cukup signifikan. Bahkan, rupiah menjadi mata uang nomor dua dengan penguatan tertinggi pada hari ini, setelah rupee India sebesar 1 persen.


Tepat di belakang rupiah, yen Jepang mengekor dengan menguat 0,41 persen, won Korea Selatan 0,13 persen, dolar Singapura 0,12 persen, baht Thailand 0,09 persen, dan ringgit Malaysia 0,05 persen.


Namun, beberapa mata uang justru bersandar di zona merah. Dolar Hong Kong melemah 0,09 persen, renminbi China minus 0,02 persen, dan peso Filipina minus 0,01 persen.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas menguat dari dolar AS. Euro Eropa menguat 0,18 persen, dolar Australia 0,14 persen, poundsterling Inggris 0,13 persen, dan franc Swiss 0,1 persen.

Namun, rubel Rusia dan dolar kanda melemah masing-masing 0,07 persen dan 0,03 persen dari mata uang Negeri Paman Sam.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah berhasil menguat hari ini karena terpengaruh sentimen eksternal berupa antisipasi pasar terhadap hasil rapat bank sentral AS, The Federal Reserve yang dimulai sejak hari ini.


Meski mengantisipasi keputusan moneter The Fed, namun pasar berekspektasi bahwa The Fed bakal mengurangi keagresifannya dalam mengerek tingkat bunga acuan pada tahun depan. Hal ini lantas membuat dolar AS melemah dan mata uang lain menguat, termasuk rupiah.

Bersamaan dengan sentimen The Fed, pasar domestik seakan melupakan sentimen defisit neraca perdagangan yang anjlok hingga US$2,05 miliar pada November 2018 dan mencapai US$7,52 miliar sepanjang Januari-November 2018.

"Pelaku pasar hari ini beralih ke sentimen lain, yang kemarin tidak dipikirkan lagi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/12).

Di sisi lain, Dini melihat sekalipun hasil rapat The Fed nanti tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, tampaknya hal itu tak akan melemahkan rupiah secara dalam. Begitu pula bila keputusan The Fed sesuai ekspektasi.

"Karena kalau pun menguat, rupiah masih punya beban dari sentimen dalam negeri berupa defisit neraca perdagangan yang sepertinya berlanjut pada bulan ini," terangnya. (uli/agi)