REKOMENDASI SAHAM

Saham Bank Berkilau Jika 2019 Fed Tahan Kenaikan Bunga

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 07:37 WIB
Saham Bank Berkilau Jika 2019 Fed Tahan Kenaikan Bunga Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Prediksi sejumlah pihak yang menyebut The Fed hanya menaikkan suku bunga acuan sebanyak satu kali pada 2019 dipercaya bakal mengerek saham emiten perbankan. Baiknya, pelaku pasar tak lengah pada pekan pertama 2019 dengan mulai melakukan akumulasi beli pada saham perbankan.

Emiten yang bisa dipilih, antara lain; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menjelaskan bila The Fed benar-benar hanya menaikkan suku bunganya satu kali, potensi Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan suku bunga acuan juga akan mengendur.


Dengan potensi tersebut, perbankan tak lagi perlu resah soal permintaan kredit sepanjang 2019. Maklum, jika BI mengerek suku bunga acuan, maka secara bertahap perusahaan bank juga akan mengikuti langkah bank sentral nasional. Hal tersebut akan mengancam jumlah permintaan kredit terhadap perusahaan bank.
Begitu juga sebaliknya; jika kenaikan suku bunga ditahan. "Ini (potensi The Fed hanya menaikkan suku bunga satu kali) akan menguntungkan bagi kinerja emiten perbankan," tutur Janson kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/12).

Seperti diketahui, mayoritas keuntungan perbankan masih berasal dari pendapatan bunga bersih. Logikanya, apabila suku bunga naik, permintaan kredit akan berkurang. Begitu juga sebaliknya, jika suku bunga turun atau stagnan maka permintaan kredit berpeluang naik.

Selain karena dipengaruhi sentimen The Fed, kinerja emiten perbankan yang cemerlang sejak Januari-September 2018 juga membuat sahamnya menjadi idola di kalangan pelaku pasar.

"Kinerja kuartal III 2018 BRI, BNI, Bank Mandiri, dan BTN menorehkan keuntungan dua digit," kata Janson.


Mengutip laporan keuangan emiten masing-masing, BRI mengantongi laba bersih sebesar Rp23,5 triliun atau naik 14,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, laba bersih Bank Mandiri tumbuh 20 persen menjadi Rp18,1 triliun.

Selanjutnya, BTN meraup keuntungan sebesar 2,23 triliun, naik 11,51 persen dari sebelumnya Rp2 triliun. Untuk BNI, perusahaan membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 12,6 persen dari Rp10,16 triliun menjadi Rp11,44 triliun.

Senada, Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo melihat peluang yang sama pada saham perbankan untuk pekan ini. Bahkan, ia juga menambah daftar saham perbankan yang bisa dikonsumsi, yakni PT Bank Central Asia Tbk.

"Perbankan masih menjadi sektor yang memimpin (pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG) selama tiga bulan terakhir hingga Desember 2018," ungkap Lucky.


Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham perbankan menjadi bagian dari sektor keuangan. Pada Oktober 2018, sektor keuangan tercatat minus 0,23 persen. Kemudian, bulan selanjutnya langsung melonjak sebesar 8,55 persen dan Desember 2018 kembali meningkat 0,83 persen.

Dari sisi pergerakan sahamnya sendiri, RTI Infokom mencatat dalam tiga bulan terakhir saham BRI melesat 20,79 persen, BNI 19,73 persen, Bank Mandiri 11,32 persen, dan BCA 8,67 persen. Sementara, saham BTN terkoreksi 4,15 persen.

Sektor Barang Konsumsi

Tak hanya sektor perbankan, pelaku pasar juga sudah bisa melakukan ancang-ancang untuk mengoleksi saham berbasis barang konsumsi. Pasalnya, pemilihan presiden (pilpres) yang akan diselenggarakan pada April 2019 mendatang bakal menumbuhkan penjualan emiten barang konsumsi.

Janson merekomendasikan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Kalbe Farma, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, dan PT Gudang Garam Tbk.

Saham Bank Jadi Berkilau Jika 2019 Fed Tahan Kenaikan Bunga Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

"Pesta demokrasi 2019 akan menjadi katalis positif bagi sektor barang konsumsi, lalu juga dipengaruhi kenaikan dana bantuan sosial dan Dana Desa," ujar Janson.

Sebagai informasi, pemerintah mengalokasikan anggaran bantuan sosial pada 2019 sebesar Rp102,05 triliun. Angka itu naik 32,08 persen dari anggaran 2018 sebesar Rp77,26 triliun. Lalu, Dana Desa pada 2019 meningkat 16,66 persen. Ini artinya, total Dana Desa pada 2019 naik menjadi Rp70 triliun dari sebelumnya Rp60 triliun.

Sama seperti pilpres, kenaikan anggaran bantuan sosial dan Dana Desa juga akan menambah penjualan bagi perusahaan sektor barang konsumsi. Sebab, daya beli masyarakat berpeluang meningkat dengan pemberian bantuan dari pemerintah.


Janson menambahkan, keputusan pemerintah yang tak mengerek tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2019 juga menjadi angin segar untuk sektor barang konsumsi, khususnya HM Sampoerna dan Gudang Garam sebagai produsen rokok.

"Tidak ada kenaikan cukai rokok akan mendongkrak kinerja Gudang Garam dan HM Sampoerna," terang Janson.

Informasi saja, keputusan cukai rokok itu termaktub dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 156 Tahun 2018 yang diterbitkan 12 Desember 2018, sebagai pengganti ketentuan sebelumnya yakni PMK Nomor 146 Tahun 2017.
(agt)