Nasib KEK Tanjung Lesung Setelah 'Diguyur' Tsunami

ulf, CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 13:49 WIB
Nasib KEK Tanjung Lesung Setelah 'Diguyur' Tsunami Pengembangan KEK Tanjung Lesung selama ini tersendat infrastruktur. Terjangan tsunami dinilai akan membuat pengembangan oleh investor kian berat. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung semakin dipertanyakan usai hantaman tsunami di Selat Sunda. Sedikitnya 430 orang meninggal dunia, 1.495 orang luka-luka, dan 159 orang lainnya masih hilang. Bangunan dan rumah-rumah penduduk pun rusak berat akibat kejadian itu.

Tanjung Lesung sebagai KEK mulai beroperasi pada Februari 2015 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2012 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung. Kawasan ini dikelola oleh PT Jababeka Group Tbk melalui anak usahanya PT Banten West Java (BWJ).

Komitmen pemerintah mengembangkan kawasan seluas 1.500 hektare (Ha) itu boleh dibilang kurang mantap. Agus Pambagio, Pengamat Kebijakan Publik mengakui pembangunan KEK Tanjung Lesung selama ini tersendat oleh minimnya infrastruktur publik ke kawasan tersebut.

Menurut dia, peningkatan infrastruktur tak kalah penting, seperti akses jalan tol, bandar udara, jalur kereta api yang mendekatkan pengunjung ke kawasan.


Kehadiran tsunami dan erupsi anak Gunung Krakatau, ia melanjutkan semakin membuat langkah investor berat untuk berpijak di KEK Tanjung Lesung. Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa kawasan ini menyimpan keragamanan potensi pariwisata nan cantik.

"Karena, investasi berkaitan dengan keselamatan, selain kemudahan regulasi. Bencana alam ini menjadi pertimbangan investor," imbuh Agus kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/12).

Hal senada diungkapkan Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah. Dalam jangka pendek, ia menilai investasi di KEK Tanjung Lesung akan terganjal. Pun demikian, lanjut dia, bukan berarti pengembangan kawasan tersebut bisa dibiarkan mandek begitu saja.

Makanya, ia menyarankan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus bahu membahi membenahi dan mendukung pengembangan KEK Tanjung Lesung. Misalnya, dari sisi mitigasi risiko, BMKG dapat memaksimalkan alat peringatan dini tsunami di pesisir Banten.

Nasib KEK Tanjung Lesung Setelah 'Diguyur' TsunamiIlustrasi Tanjung Lesung. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro).

Tidak cuma itu, Trubus juga meminta BNPB untuk memberikan pengetahuan tentang potensi bencana kepada seluruh masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke KEK Tanjung Lesung.

Hal lainnya, pemerintah diminta memastikan penerapan rencana tata ruang wilayah yang sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai di kawasan tersebut.

Sebab, banyak ditemui hunian yang sangat berdekatan dengan bibir pantai. Sempadan pantai sendiri adalah daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Dalam waktu dekat usai tsunami ini, Trubus memandang pemerintah perlu melakukan langkah proaktif lewat pendekatan khusus kepada investor. Dengan begitu, bisa mengurangi kekhawatiran mereka akan investasinya di KEK Tanjung Lesung.


"Pemerintah saat ini baru mendesain rancangan KEK Tanjung Lesung saja, tetapi belum menunjukkan langkah masksimal," katanya.

Selain itu, Agus menambahkan pemerintah juga perlu menggiatkan upaya pencegahan bencana alam, seperti tanggul pemecah ombak, mengingat kawasan Tanjung Lesung sebagai daerah rawan bencana.

Standardisasi Mitigasi KEK

Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto Pranoto mengatakan bencana tsunami yang menghantam KEK Tanjung Lesung menjadi pertimbangan bagi pengembangan kawasan sejenis yang terletak di pesisir pantai.

"Karenanya, Dewan Nasional KEK akan merumuskan standar mitigasi bencana di wilayah KEK," terang dia.


Perumusan standar mitigasi bencana akan melibatkan pakar, akademisi, serta instansi terkait, baik pusat maupun daerah, termasuk investor dan badan usaha pengelola KEK.

"Pemerintah akan memastikan bahwa iklim investasi kondusif, berjalan dengan baik seperti dukungan infrastruktur, kemudahan dalam perizinan dan sebagainya," imbuh Enoh.

Direktur Utama Jababeka Setyono Djuandi Darmono, selaku pengelola, mengungkapkan pihaknya telah mengusulkan pembangunan tanggul pemecah ombak kepada pemerintah. Tanggul tersebut menjadi salah satu infrastruktur yang dapat memitigasi risiko bencana alam.

"Kemarin kami sudah bicarakan dengan pak Menko Perekonomian (Darmin Nasution). Pak Menko juga sepakat harus begitu (ada pembangunan tanggul). Di Benoa dan Bali juga dipasang tanggul pemecah ombak," jelasnya.


Pihaknya juga akan mengusulkan pemasangan peralatan early warning system (sistem peringatan dini) yang bisa mendeteksi gempa dan ombak besar, sehingga ada waktu sekitar 20-40 menit untuk evakuasi.

Tidak hanya itu, pihaknya juga akan memperketat disiplin dan pelatihan karyawan, serta wisatawan sesuai dengan standar pengamanan yang berlaku secara internasional. Selain itu, pembangunan juga harus sesuai dengan aturan tata ruang yang dikaji secara berkala mengikuti perubahan alam seperti erosi dan abrasi.

"Bencana ini ada hikmahnya, yaitu semua sadar harus kerja sama. Justru ini menjadi alat jual kita kepada investor, bahwa sekarang saatnya masuk karena semua pemerintah baik dari kabupaten, provinsi, dan pusat menjadi lebih siap dan waspada," tutur Setyono.

Hingga saat ini, investasi yang masuk ke KEK Tanjung Lesung mencapai US$300 juta. Dari 1.500 Ha lahan di KEK Tanjung Lesung, baru sekitar 158 Ha yang dikembangkan. Itu berarti masih banyak potensi yang bisa dikembangkan di Tanjung Lesung. Sementara itu, luasan yang terkena tsunami adalah 8 Ha, tepatnya di Tanjung Lesung Beach Hotel dan Kalica Residence.


Saat ini, sudah ada calon investor asing yang menyatakan minatnya untuk berinvestasi di KEK Tanjung Lesung, yaitu investor China, Jepang, dan Korea Selatan. Namun demikian, mereka belum merealisasikan investasinya lantaran kondisi infrastruktur publik menuju kawasan KEK Tanjung Lesung yang belum memadai.

Usai bencana ini, Setyono memastikan calon investor tidak menarik kembali niat investasinya. "Karena mereka melihat investasi jangka panjang, hanya turis saja yang sementara trauma. Kalau investor selalu jangka panjang, mereka memikirkan 50-100 tahun ke depan. Mereka juga sudah tahu ada Anak Gunung Krakatau, " pungkasnya.


(bir)