Arab Pangkas Produksi, Minyak Menguat Lebih dari 1 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 04/01/2019 07:52 WIB
Arab Pangkas Produksi, Minyak Menguat Lebih dari 1 Persen Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis (3/1), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan didorong oleh sinyal pemangkasan produksi minyak mentah oleh Arab Saudi.

Dilansir dari Reuters, Jumat (4/1), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$1,04 atau 1,89 persen menjadi US$55,95 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, Brent bergerak di rentang US$53,93 hingga US$56,3 per barel.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,55 atau 1,18 persen menjadi US$47,09 per barel. Sepanjang sesi perdagangan, WTI sempat tertekan ke level US$45,35 per barel dan terdongkrak hingga menyentuh US$47,49 per barel.


Kenaikan harga minyak berjangka ditopang oleh sinyal berkurangnya pasokan dari negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Survei Reuters mencatat pasokan minyak OPEC merosot pada Desember 2018, penurunan terbesar dalam hampir dua tahun terakhir.


Berkurangnya pasokan terjadi seiring langkah Arab Saudi yang mulai membatasi pasokan. Apalagi saat yang sama, pasokan dari Iran dan Libya juga menurun.

Sebagai catatan, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, tahun lalu sepakat untuk memangkas pasokan mulai Januari 2019. Kebijakan itu mengemuka setelah harga minyak mentah anjlok dari level di atas US$86 per barel pada Oktober akibat kekhawatiran terhadap melesatnya pasokan.

"Arab Saudi tengah mempelopori pemangkasan produksi signifikan yang resmi berlaku pekan ini. Sejauh ini, ketaatan untuk menyesuaikan kuota nampaknya tinggi kemungkinannya," ujar Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Kendati demikian, pasar minyak masih mendapatkan tekanan dari kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dapat mengurangi permintaan.


Raksasa produsen gawai Apple memangkas proyeksi penjualannya menyusul perlambatan ekonomi China. Pemberitaan mengenai hal tersebut mengguncang pasar modal AS dan membebani harga minyak, yang beberapa kali bergerak paralel dengan indeks Wall Street.

Data industri AS yang lebih lemah dari perkiraan juga menambah kekhawatiran terhadap perekonomian.

"Ini merupakan pertarungan antara kondisi pasokan, yang kelihatannya mengetat, melawan kemungkinan permintaan yang bakal menurun," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Berdasarkan survey Federal Reserves Bank of Dallas yang dirilis Kamis, proyeksi para eksekutif dari perusahaan migas negatif untuk pertama kalinya sejak anjloknya harga minyak.


Para investor tengah khawatir terhadap kenaikan pasokan dari produsen utama minyak dunia, termasuk AS dan Rusia. Di AS, Institut Perminyakan Amerika merilis data stok minyak mentah merosot pekan lalu. Sementara, stok bensin dan minyak distilasi menanjak.

Persediaan minyak mentah merosot sebesar 4,5 juta barel menjadi 443,7 juta barel pada pekan yang berakhir pada 28 Desember 2018. Sebagai pembanding, survei analis Reuters memperkirakan penurunan sebesar 3,1 juta barel.

Sementara, persediaan bensin AS naik 8 juta barel, lebih tinggi dari proyeksi analis yang kenaikannya hanya sebanyak 2 juta barel. Kemudian, stok minyak distilasi naik 4 juta barel melampaui perkiraan yang hanya 1,6 juta barel.

Selain itu, survei Reuters pada Kamis lalu juga memperkirakan Arab Saudi bakal memangkas harga untuk minyak mentah berat yang dijual ke Asiaakibatlemahnya margin bahan bakar. Di saat bersamaan, Arab Saudi juga akan mengurangi harga minyak mentah ringan untuk menjaga daya saing dengan pasokanminyakshale dari AS. (sfr/agt)