China Construction Bank Incar Naik Kelas ke Buku 3

CNN Indonesia | Selasa, 08/01/2019 12:02 WIB
China Construction Bank Incar Naik Kelas ke Buku 3 China Construction Bank Indonesia incar naik kelas masuk ke BUKU 3 atau bank dengan modal inti Rp5 triliun hingga kurang dari Rp30 triliun. (REUTERS/Aly Song).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk incar naik kelas menjadi bagian dari Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 3 pada tahun ini. Saat ini, emiten berkode MCOR tersebut sedang menyiapkan strategi untuk menambah modal intinya menjadi Rp5 triliun.

Diketahui, BUKU 3 merupakan kelas perbankan yang memiliki kecukupan modal inti Rp5 triliun sampai dengan kurang dari Rp30 triliun. Adapun, kategori ini terbagi empat, yakni BUKU 1, 2, 3, dan 4. Setiap BUKU memiliki syarat modal inti masing-masing.

Direktur Keuangan Bank China Construction Bank Indonesia Chandra Nangkok Tua Siagian mengungkapkan modal inti perusahaan per November 2018 sekitar Rp2,6 triliun. Artinya, perusahaan butuh sekitar Rp2,4 triliun untuk merealisasikan rencananya masuk menjadi BUKU 3.


"Prosesnya sekarang di internal sudah persiapan, kami akan berkomunikasi dengan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) khusus ya, meminta persetujuan pemegang saham," ujarnya, Senin (7/1).

Sebelum itu, manajemen akan memastikan terlebih dahulu aksi korporasi apa yang akan dilakukan guna mengerek modal inti perusahaan. Salah satu opsi yang akan dilakukan adalah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHETD) atau rights issue.

"Jumlah berapa belum bisa disampaikan karena belum diputuskan," terang Chandra.


Ia mengaku pihaknya telah intens berkomunikasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait rencananya untuk naik kelas menjadi BUKU 3. Namun, perusahaan belum menyerahkan surat pengajuan secara resmi.

Selain berencana menambah modal inti untuk membuat perusahaan beranjak dari posisinya saat ini di kelas bank BUKU 2. Perusahaan juga butuh tambahan modal untuk menyalurkan kredit tahun ini. Makanya, perusahaan berpotensi melakukan beberapa aksi korporasi tahun ini.

Direktur Bank China Construction Bank Indonesia Setiawati Samahita mengatakan perusahaan menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 13 persen tahun ini menjadi Rp12,8 triliun dari realisasi tahun lalu sebesar Rp11,3 triliun.


"Fokus kreditnya masih sama, di korporasi, ritel, komersial," kata Setiawati.

Untuk kredit korporasi misalnya, perusahaan menargetkan penyaluran kredit di sektor infrastruktur Rp1 triliun tahun ini. Angka itu naik tipis dibandingkan dengan realisasi penyaluran kredit infrastruktur sekitar Rp900 miliar tahun lalu.

"Infrastruktur banyak juga di pipeline tahun ini, ada 15 proyek, makanya kami butuh suntikan modal lagi," jelasnya.


Beberapa proyek infrastruktur tersebut, antara lain jalan tol, pembangkit listrik, dan sumber daya air. Selain itu, perusahaan juga akan fokus pada penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) untuk mendorong jumlah kredit ritel.


(aud/bir)