Perang Dagang AS-China Reda, Rupiah Kembali Perkasa
CNN Indonesia
Kamis, 10 Jan 2019 09:04 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.095 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis pagi (10/1). Posisi ini kembali menguat 30 poin atau 0,21 persen dari Rabu (9/1) di Rp14.125 per dolar AS.
Bersama rupiah, mayoritas mata uang Asia juga turut menguat. Baht Thailand menguat 0,01 persen, yen Jepang 0,21 persen, ringgit Malaysia 0,25 persen, won Korea Selatan 0,35 persen, dan peso Filipina 0,35 persen. Sementara itu, dolar Singapura stagnan dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.
Sedangkan mata uang utama negara maju bergerak variasi. Poundsterling Inggris menguat 0,03 persen, franc Swiss 0,13 persen, dan euro Eropa 0,15 persen. Namun, beberapa di antaranya melemah, seperti dolar Kanada minus 0,1 persen, rubel Rusia minus 0,06 persen, dan dolar Australia minus 0,01 persen.
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan mata uang Garuda berpotensi menguat pada hari ini karena sentimen penguatan dari apresiasi renminbi China diperkirakan masih ada.
"Hal ini seiring akan dirilisnya hasil kesepakatan dagang antara AS dan China," ujarnya, Kamis (10/1).
Di sisi lain, rupiah mendapat sentimen positif dari penguatan euro Eropa yang merupakan respons dari kelanjutan proses keluarnya Inggris dari zona Eropa (Britania Exit/Brexit).
"Ada sinyal kekalahan dari Perdana Menteri Theresia May di parlemen dalam membahas Brexit membuat euro Eropa meningkat," katanya. (uli/lav)
Bersama rupiah, mayoritas mata uang Asia juga turut menguat. Baht Thailand menguat 0,01 persen, yen Jepang 0,21 persen, ringgit Malaysia 0,25 persen, won Korea Selatan 0,35 persen, dan peso Filipina 0,35 persen. Sementara itu, dolar Singapura stagnan dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.
Sedangkan mata uang utama negara maju bergerak variasi. Poundsterling Inggris menguat 0,03 persen, franc Swiss 0,13 persen, dan euro Eropa 0,15 persen. Namun, beberapa di antaranya melemah, seperti dolar Kanada minus 0,1 persen, rubel Rusia minus 0,06 persen, dan dolar Australia minus 0,01 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Aliran Dana Asing Bikin IHSG Makin Kokoh |
Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan mata uang Garuda berpotensi menguat pada hari ini karena sentimen penguatan dari apresiasi renminbi China diperkirakan masih ada.
"Hal ini seiring akan dirilisnya hasil kesepakatan dagang antara AS dan China," ujarnya, Kamis (10/1).
"Ada sinyal kekalahan dari Perdana Menteri Theresia May di parlemen dalam membahas Brexit membuat euro Eropa meningkat," katanya. (uli/lav)