Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan otoritas optimis dengan target tersebut karena kondisi ekonomi di tahun ini diperkirakan bakal lebih baik. Hal ini seiring kenaikan bunga acuan bank sentral, The Federal Reserve diperkirakan lebih landai dari tahun lalu yang mencapai empat kali.
"Kami melihat capital inflow kembali lagi ke emerging market, termasuk Indonesia," ujarnya di Pertemuan Tahunan OJK, Jumat (11/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, tren pencarian dana di pasar modal sejatinya sudah terjadi sejak tahun lalu, meski tekanan dari ekonomi global justru sedang tinggi-tingginya.
"Artinya, minat perusahaan menghimpun dana melalui pasar modal terus meningkat," katanya.
Lihat juga:LPS Ramal Likuiditas Bank di 2019 akan Ketat |
Sementara OJK memprediksi nilai penghimpunan dana di pasar modal akan mencapai kisaran Rp200-250 triliun pada tahun ini. Angka ini sejatinya sama dengan target tahun lalu yang tak tercapai.
Pada 2018, jumlah penghimpunan dana di pasar modal hanya mencapai Rp166 triliun. Capaian itu merosot tajam bila dibandingkan dengan 2017 yang mencapai Rp255 triliun.
Wimboh mengatakan pendanaan di pasar modal melemah pada 2018 karena tertekan sentimen kenaikan bunga acuan The Fed. Hal itu membua aliran modal asing (capital inflow) pulang kampung ke Negeri Paman Sam.
Namun, dengan kondisi ekonomi tahun ini yang diperkirakan bisa lebih baik, maka OJK optimis target penghimpunan dana di pasar modal bisa kembali 'tokcer' seperti 2017 lalu. (uli/agi)