Anggota SJ Travel Pass Bakal Laporkan Sriwijaya Air ke Polisi

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 10:43 WIB
Anggota SJ Travel Pass Bakal Laporkan Sriwijaya Air ke Polisi Ilustrasi Sriwijaya Air. (Adek Berry/AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Anggota Sriwijaya (SJ) Travel Pass bakal melaporkan maskapai penerbangan Sriwijaya Air ke Kepolisian RI jika manajemen tidak juga mengembalikan aturan seperti perjanjian awal.

Saat ini, anggota SJ Travel Pass Maya Sayekti mengatakan tengah mempelajari Undang-Undang (UU) yang dilanggar oleh maskapai tersebut.

"Kami lihat ada yang dilanggar oleh perusahaan tapi kami masih pelajari dulu, ini pasti ada yang menyimpang karena tidak sesuai perjanjian jadi bisa diperkarakan," tutur dia, Senin (14/1).


Kendati mantap untuk membawa kasus ini ke meja hijau, namun Maya belum tahu pasti kapan ia akan memasukkan laporan. Hal ini masih dalam diskusi dengan sejumlah anggota SJ Travel Pass lain. Jumlah anggota program terbang sepuasnya milik Sriwijaya Air diperkirakan mencapai 14 ribu orang.

"Belum ada (tenggat waktu). Lagi-lagi yang dikatakan tadi, masih pelajari dulu," terang Maya.

Sebelumnya, Maya dan sejumlah anggota SJ Travel Pass memprotes Sriwijaya Air karena perusahaan menyulitkan anggota dalam membeli tiket pesawat ke semua rute dan setiap hari.


Keanehan dalam pembelian tiket pesawat sebagai anggota SJ Travel Pass, Maya bilang mulai terjadi sejak Oktober 2018 lalu. Ia menyebut semua rute penerbangan habis terjual (sold out), termasuk akhir pekan (weekend) dan hari kerja (weekday).

"Kan tidak masuk akal. Misalnya masa anggota 14 ribu orang terbang semua ke Marauke gitu. Ini kan suatu hal yang tidak bisa dipercaya," kata Maya.

Belum lagi, Sriwijaya Air menerapkan aturan bagi setiap anggota SJ Travel Pass hanya boleh check in di counter atau saat di bandara. Beruntung, aturan itu dihapus setelah anggota SJ Travel Pass melakukan petisi.


Tak selesai sampai di sana, permasalahan baru muncul ketika perusahaan membatasi jumlah penumpang dalam satu pesawat. Selain itu, pembekuan keanggotaan yang membatalkan penerbangan secara tiba-tiba atau tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"Karena kan mungkin sebagian dari kami ada yang berpikir harga tiket tidak seberapa, ya sudah batal tiba-tiba tidak masalah," cerita Maya.

Namun, Sriwijaya Air seolah-olah sengaja menyusahkan anggota SJ Travel Pass karena mereka tidak bisa menggunakan fasilitas sebagai anggota di program tersebut selama dua minggu setelah kejadian tersebut.


"Ini kan seperti mencari-cari kesalahan kami terus, mencoba agar kami tidak jadi terbang," papar Maya.

Pembatasan dari Sriwijaya Air kembali ditambah pada awal tahun ini dengan memberikan tiket kelas A atau sebagai kursi cadangan kepada anggota SJ Travel Pass. Bagi Maya, hal itu jelas merugikan penumpang.

"Jadi, nasib kami ditentukan dalam 60 menit terakhir sebelum berangkat, kalau masih ada kursi kami bisa berangkat. Jadi, tidak bisa check in sebelum 60 menit terakhir jadwal berangkat," jelasnya.


Terakhir, sambung dia, salah satu anggota SJ Travel Pass diberitahu secara tak sengaja oleh petugas bandara bahwa satu pesawat hanya bisa lima anggota SJ Travel Pass. Namun, aturan itu tak disosialisasikan kepada anggota.

"Kami tidak tahu apakah itu benar atau petugas di bandara tidak sengaja memberitahu, sampai sekarang aturan batasan lima kursi ini tidak jelas," terang dia.

Sebelumnya, Sriwijaya Air menduga 86 anggota SJ Travel Pass melakukan kecurangan dengan menjual tiket kepada orang lain untuk kepentingan pribadi. Maskapai tersebut mencatat transaksi dari pembelian tiket yang tidak wajar.


"Kami sudah menangkap 86 anggota ini, kami sudah bekukan keanggotaannya. Ada yang penggunaannya baru tiga bulan sudah sampai Rp80 juta, jadi ini betul-betul dijual," tutur Service Quality Assurance Sriwijaya Sunandar.

Atas dasar itu, Sriwijaya Air menerapkan sejumlah aturan baru, seperti memperketat pemeriksaan di bandar udara. Hal ini bertujuan memastikan apakah penumpang itu benar-benar anggota SJ Travel atau tidak.


(aud/bir)