Pelemahan Ekspor dan Impor China Tekan Harga Minyak

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 07:35 WIB
Pelemahan Ekspor dan Impor China Tekan Harga Minyak Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia merosot sekitar 1 persen pada perdagangan Senin (14/1), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh data pelemahan ekspor dan impor China.

Pasar khawatir pelemahan tersebut akan menekan permintaan minyak mentah sehingga harganya tertekan. Dilansir dari Reuters, Selasa (15/1), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,61 atau US$59,87 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, Brent sempat tertekan hingga ke level US$59,27 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,36 menjadi US$51,23 per barel, setelah sempat tertekan ke level US$50,43 per barel.



Data ekonomi China menimbulkan kekhawatiran baru terhadap pelemahan ekonomi global. Sebagai catatan, ekspor China merosot terdalam untuk hampir dua tahun pada Desember 2018. Selain itu, impor China juga ikut merosot.

"Harga minyak mendapatkan tekanan oleh prospek pelemahan pertumbuhan ekonomi di China," ujar Analis broker Oanda Stephen Innes dalam catatannya.

Menurut Innes data perekonomian China mengingatkan akan dampak negatif dari perang dagang terhadap China dan ekonomi global. Selain kekhawatiran terhadap proyeksi ekonomi, sinyal pelemahan permintaan minyak China masih sedikit.

Berdasarkan perhitungan Reuters dari data kepabeanan, impor minyak mentah China melesat hampir 30 persen sejak awal tahun pada Desember 2018 lalu. Pada Senin (14/1) kemarin, Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengaku tidak khawatir terhadap perlambatan ekonomi global yang akan menekan permintaan minyak.


"Perekonomian global cukup kuat, saya tidak terlalu khawatir. Jika perlambatan terjadi, itu akan terjadi ringan, dangkal, dan dalam jangka pendek," ujar Al-Falih kepada awak media di Abu Dhabi.

Baru-baru ini, harga minyak mentah mengalami reli setelah tertekan ke level terendah dalam 1,5 tahun terakhir pada Desember 2018. Direktur Perdagangan Berjangka Mizuho Bob Yawger menilai terdapat rentang harga baru di pasar minyak mentah dan kepentingan untuk menjaga level harga di atas rentang tersebut.

"(Untuk WTI), harga mendekati US$50," ujar Yawger di New York.

Reli harga yang terjadi baru-baru ini membuat Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) semakin yakin harga akan didorong oleh penurunan produksi pada Januari 2019. Sebelumnya, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, telah sepakat untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) pada Desember 2018 lalu.

Kebijakan itu mulai diimplementasikan pada Januari ini. Pada Minggu lalu, Al-Falih, menyatakan pasar minyak berada pada jalur yang tepat. Karenanya, tidak ada urgensi untuk OPEC menggelar rapat luar biasa sebelum menggelar pertemuan berikutnya yang dijadwalkan pada April 2019 mendatang.

(sfr/agt)