Alasan Inalum Terbitkan Surat Utang Demi Beli Saham Freeport

CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 11:30 WIB
Alasan Inalum Terbitkan Surat Utang Demi Beli Saham Freeport PT Inalum mengaku lebih memilih membeli saham PT Freeport Indonesia melalui dana obligasi korporasi dibanding sindikasi perbankan untuk mencegah krisis arus kas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum) mengaku lebih memilih membeli saham PT Freeport Indonesia senilai US$3,85 miliar melalui dana hasil obligasi korporasi dibanding sindikasi perbankan untuk mencegah krisis arus kas perusahaan pada 2019-2020.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin saat menjawab pertanyaan dari anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam Rapat Dengar Pendapat, Selasa (15/1).

Jika menggunakan pinjaman sindikasi perbankan, ungkap Budi, perseroan akan mengalami krisis arus kas pada 2019 hingga 2020. Persoalannya, perseroan tak memperoleh pendapatan maksimal selama dua tahun. karena tambang bawah tanah yang berada di tambang Grasberg baru bisa beroperasi 2021 mendatang.



"Cicilan pokok ini harus dipenuhi lebih awal sehingga akan membebani cash flow (arus kas) Inalum pada 2019 dan 2020, di mana tambang bawah tanah belum beroperasi," jelas Budi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa (15/1).

Budi memaparkan nilai divestasi tentu tak dapat dipenuhi oleh kas Inalum. Terlebih, perusahaan sudah memprediksi bahwa laba sebelum pajak, depresiasi, amortisasi, dan bunga (EBITDA) Freeport tahun ini hanya US$3,14 miliar atau anjlok hingga 51,8 persen dibandingkan perkiraan tahun lalu yang mencapai US$6,52 miliar.

Tadinya, Inalum akan mengambil pinjaman dari bank. Namun, pinjaman dari bank cukup berisiko karena tren suku bunga sedang meningkat dan tenor pendek hanya 18 bulan. Inalum juga harus membayar cicilan pinjaman bank di awal tahun 2019 jika perusahaan pelat merah ini jadi mendanai divestasi melalui perbankan.


Ia melanjutkan, pilihan jatuh ke obligasi global karena tenornya lebih panjang dan suku bunganya terbilang lebih tetap (fixed). Apalagi, pembayaran pokok obligasi bisa ditunda di akhir tenor.

"Kami bersyukur bisa menerbitkan US$4 miliar dari global bond dan ini memang penerbutan obligasi global terbesar. Dulu juga sebelumnya pernah ada global bond yang diterbitkan US$4 miliar di 2017," imbuhnya.

Sesuai perhitungan Inalum, arus kas perusahaan masih bisa bertahan hidup jika bunga cicilan di bawah 6,5 persen per tahun. Adapun saat ini, total bunga cicilan obligasi yang diterbitkan Inalum tercatat 5,9 persen atau masih di bawah batas yang ditetapkan perusahaan.


Secara rinci, nilai bunga obligasi itu terdiri dari pengembalian obligasi ke dalam empat tranche yakni US$1 miliar dengan bunga 5,23 persen bertenggat 2021, US$1,25 miliar dengan bunga 5,71 persen bertenggat 2023, US$1 miliar dengan bunga 6,53 persen bertenggat 2028, dan US$750 juta bertenggat 2048 dengan bunga 6,76 persen.

Setelah 2022, arus kas Inalum bisa mekar lantaran tambang bawah tanah sudah beroperasi. Sebab, Freeport diperkirakan bisa mencetak laba US$2 miliar per tahun sejak 2023 nanti.

"Kalau sudah begitu, masih ada cash flow cukup bagi perusahaan," imbuh dia. (glh/lav)