Gubernur BI Isyaratkan Pertahankan Era Suku Bunga Tinggi

CNN Indonesia | Kamis, 17/01/2019 11:33 WIB
Gubernur BI Isyaratkan Pertahankan Era Suku Bunga Tinggi Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut tingkat suku bunga acuan hampir menyentuh puncak. Pun demikian, ia mengisyaratkan mempertahankan kebijakan itu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan tingkat suku bunga acuan BI hampir mencapai batas atas. Sepanjang tahun lalu, bank sentral tercatat telah menaikkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) sebanyak 175 basis poin (bps) dalam enam kali kenaikan. Saat ini, tingkat suku bunga acuan berada di posisi 6 persen.

"Stance kebijakan moneter pre-emptive ahead of the curve (kebijakan antisipatif dan mendahului) akan kami pertahankan meskipun tingkat suku bunga kami sudah hampir mencapai puncaknya," ujarnya di Gedung DPR, Rabu (16/1).

Perry menjelaskan kebijakan bank sentral mengerek suku bunga sepanjang tahun guna menyesuaikan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, yang juga cukup agresif.


Namun demikian, The Fed diyakini lebih lunak dalam mengerek suku bunga acuan tahun ini. BI, lanjut Perry, memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali di 2019.

Tahun lalu, The Fed mengerek tingkat suku bunga acuan sebanyak empat kali. Saat ini posisi suku bunga acuan The Fed, Fund Fund Rate (FFR) adalah 2,25-2,5 persen.

"Prediksi ini lebih rendah dari perkiraan kami semula, yaitu tiga kali. Namun, pasar ada yang memperkirakan sekali, bahkan tidak naik sama sekali," imbuhnya.
Perry melanjutkan sentimen The Fed masih memberikan ketidakpastian di pasar keuangan global. Bahkan, lanjutnya, bank sentral di beberapa negara berencana menaikkan suku bunga untuk menyesuaikan kenaikan Fed Fund Rate (FFR).


Kendati demikian, ia menyatakan ketidakpastian tersebut tidak seburuk tahun lalu. Oleh sebab itu, Perry mengatakan BI akan terus menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian karena ketidakpastian global masih berlanjut meskipun intensitasnya tidak seburuk tahun lalu.

"Daya saing dan produktivitas perlu kita dorong untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi," tuturnya.

Selain itu, di tengah ketidakpastian global ini, Indonesia perlu memperbaiki defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD). Untuk itu, diperlukan sinergi antara pemerintah dan lembaga terkait untuk memperkuat ekonomi Indonesia.


Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kondisi perekonomian relatif lebih baik dibandingkan tahun lalu, meskipun ketidakpastian ekonomi masih berlanjut tahun ini.

Sri Mulyani juga meyakini tidak akan ada kenaikkan suku bunga The Fed yang tajam tahun ini layaknya kenaikan suku bunga The Fed tahun lalu. "Tapi seperti tahun 2018, kewaspadaan itu penting," tukas Sri Mulyani.


(ulf/bir)