Tiket Pesawat Domestik Lebih Murah Dibanding Asia dan Eropa

CNN Indonesia | Kamis, 24/01/2019 10:06 WIB
Tiket Pesawat Domestik Lebih Murah Dibanding Asia dan Eropa Ilustrasi pesawat. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mayoritas penjualan tiket pesawat rute domestik di Indonesia saat ini sudah lebih murah dibandingkan dengan luar negeri, seperti; negara di kawasan Asia dan Eropa.

Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com melalui berbagai situs resmi yang menjual tiket pesawat, seperti; Traveloka, Nusa Trip, Sky Scanner, dan Easy Jet, perbedaan harganya mencapai hingga lebih dari Rp1 juta.

Untuk pembelian tiket penerbangan pergi dan pulang dari Jakarta ke Bali melalui Traveloka menggunakan maskapai penerbangan Citilink Indonesia misalnya, penumpang hanya perlu membayar Rp1,11 juta. Sementara, bila menggunakan tiket Lion Air harga tiket Rp1,21 juta.


Harga tersebut jauh lebih murah bila dibandingkan dengan perjalanan rute Hanoi ke Ho Chi Minh. Sama-sama memakan waktu dua jam, penumpang dari Hanoi ke Ho Ci Minh harus merogoh kocek hingga Rp2,84 juta untuk perjalanan pulang dan pergi.


Harga itu bila masyarakat menggunakan maskapai VietJet Air. Harga ini mengacu pada situs Easy Jet. Masih dari situs yang sama, Easy Jet, penumpang yang hendak bepergian dari Paris ke Lyon dengan rute pulang pergi harus membayar sebesar Rp1,98 juta menggunakan maskapai Air France.

Perjalanan Paris ke Lyon meamakan waktu kurang lebih satu jam. Dibandingkan dengan jam penerbangan yang sama, Jakarta-Yogyakarta, konsumen hanya perlu membayar dengan harga Rp775 ribu menggunakan Air Asia dan Rp714 ribu menggunakan Lion Air.

Tiket tersebut bisa dijangkau melalui Nusa Trip. Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Ari Askhara mengakui rata-rata tiket tujuan domestik di Indonesia terbilang jauh lebih murah dibandingkan di luar negeri.

Namun, tingkat perbedaanya sendiri beragam. "Di luar negeri biasanya tidak ada batas atas dan batas bawah, ada beberapa negara yang ada dan tidak," kata Ari, belum lama ini. 


Ari menyebut di Eropa tak mengenal aturan batas atas. Dengan demikian, maskapai penerbangan bebas memberikan harga kepada konsumennya. Hal itu berbeda dengan kondisi di Indonesia yang memiliki aturan batas atas dan bawah.

Aturan tertuang dalam  Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 mengenai Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. "Untuk di Amerika Serikat (AS) mungkin ada ya tarif bawah, kalau di Asia atau misalnya Jepang saya kurang tahu," kata Ari.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengungkapkan hal serupa. Menurutnya harga tiket domestik di Indonesia lebih murah dan terjangkau. Hal ini terjadi karena pemerintah membatasi tiket batas atas harga tiket pesawat.

"Kalau di luar negeri kalau mau banting harga ya banting, tapi kalau mau menaikkan juga sesuka hati. Kalau musim puncak bisa saja mahal sekali," terang Alvin.


Sementara, jika permintaan tiket sedang rendah, perusahaan penerbangan bisa saja memberikan harga semurah mungkin. Di Indonesia, maskapai tak bisa menjual harga tiket di bawah batas bawah.

"Jadi bedanya mereka memang lebih fleksibel," ucap Alvin.

Meski masih murah, Alvin menyebut harga yang dibanderol maskapai dalam negeri terbilang masih wajar. Hanya saja, perusahaan memang tak lagi bisa membanting harga demi menarik minat masyarakat.

"Kalau maskapai Indonesia jual murah terus, kapan hidupnya," tutur Alvin.

Seperti diketahui, pelaku usaha penerbangan sulit mencetak keuntungan karena tertekan mata uang nasional tahun lalu. Sementara, jika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, beban operasional perusahaan membengkak karena pembiayaan banyak dilakukan menggunakan dolar AS.


PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, contohnya, pada kuartal III 2018 perusahaan membukukan rugi bersih sebesar US$114,08 juta setara Rp1,66 triliun (kurs Rp14.600 per dolar AS).

Untungnya, kerugian itu sebenarnya lebih kecil dibandingkan dengan kuartal III 2017 yang mencapai US$222,03 juta atau setara Rp3,24 triliun. (aud/agt)