EDUKASI KEUANGAN

Cara Memupuk Modal Buka Usaha setelah Mundur dari Pekerjaan

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Sabtu, 26/01/2019 10:23 WIB
Cara Memupuk Modal Buka Usaha setelah Mundur dari Pekerjaan Ilustrasi wirausaha. (Dok. Geralt/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak semua orang memiliki minat pribadi untuk bekerja di bawah naungan perusahaan sepanjang hidupnya. Ada kalanya, pegawai jenuh dengan pekerjaan, atau mungkin mulai tak satu visi dengan perusahaan tempatnya bekerja.

Menurut Total Remuneration Survey (TRS) 2019 yang disusun firma konsultasi Sumber Daya Manusia (SDM) Mercer Indonesia, gaji dan jenjang karier adalah dua alasan pegawai untuk berhenti bekerja dari perusahaannya.

Sesuai survei yang dilakukan terhadap 545 perusahaan di Indonesia, 53 persen responden mengisi jenjang karier yang tak jelas sebagai alasan utama pekerja mundur dari perusahannya di dalam kuesionernya. Sementara itu, di dalam kuesioner surveinya, 51 persen perusahaan mengisi gaji yang tak kompetitif sebagai alasan utama pegawainya tak betah bekerja.


Sebagian besar pegawai mencari pekerjaan lain yang bisa memenuhi dua faktor tersebut. Tetapi banting setir membuka usaha sendiri bisa menjadi pilihan yang tak kalah cemerlang. Terlebih, jumlah pengusaha di Indonesia masih sedikit.


Hal itu dibuktikan dari data Kementerian Perindustrian 2017 yang menunjukkan, jumlah pengusaha di Indonesia masih 3,1 persen dari total populasi Indonesia. Angka ini lebih kecil dari Singapura sebesar 7 persen, Jepang sebesar 11 persen, dan China sebesar 10 persen.

Untuk merealisasikan impian menjadi pengusaha, para pekerja perlu memperhatikan beberapa hal sebelum mengundurkan diri dari tempat kerja, dan mengubah haluan menjadi wirausaha.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan modal sudah barang tentu menjadi kebutuhan paling utama dalam memulai usaha. Terdapat dua hal yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan modal, yakni jenis usaha dan skala usaha. Ada kebutuhan modal awal yang sedikit, ada juga usaha yang butih modal sebukit.

Modal usaha, lanjut dia, sudah harus dipupuk sebelum pegawai memutuskan keluar dari pekerjaannya. Apalagi, tabungan dianggap sebagai modal yang memiliki risiko paling aman untuk memulai usaha. Sebab, pegawai tidak memiliki beban apapun jika usaha yang dikelolanya rugi di kemudian hari.


Sebaliknya, pinjaman dana akan membawa risiko yang cukup besar. Apalagi jika usaha yang digelutinya mengalami kerugian. Perbankan tetap tak mau tahu, cicilan bunga dan pokok pinjaman tetap harus dikembalikan setiap periode.

"Namanya memulai usaha, kita tidak tahu untung atau tidak kedepannya. Kalau pakai modal sendiri tentu kita akan merasa aman karena uang sendiri. Bayangkan kalau kita utang. Kalau kita tidak bisa mengelolanya dengan baik, tentu itu akan jadi beban," jelas dia.

Oleh karena itu, pegawai perlu mau menyisihkan sebagian penghasilannya per bulan untuk tabungan modal usaha. Namun, mengumpulkan tabungan untuk modal terbilang susah-susah gampang. Kadang kala, ada beberapa kondisi di ketika penghasilan per bulan mengalir ke keperluan lain.

Untuk itu, Tejasari menyarankan pekerja untuk tidak memaksakan menabung modal usaha di luar kemampuannya. Hanya saja, tabungan untuk modal usaha harus dilakukan secara konsisten. Jangan sampai, pegawai menabung modal dengan jumlah yang banyak pada bulan ini, namun kemudian tidak memutuskan untuk menabung selama dua hingga tiga bulan berikutnya.


"Memang mengumpulkan niat untuk menabung modal ini perlu niat. Jadi yang paling penting adalah jangan terlalu ngoyo. Misalnya, jangan memaksakan menabung modal usaha Rp5 juta per bulan kalau memang setiap bulan tak bisa menabung sebanyak itu. Jadi selama masih bekerja, simpan saja uang yang sedianya masih bisa ditabung untuk modal usaha," jelas Tejasari.

Agar risiko modal lebih rendah lagi, Tejasari bilang bahwa pegawai bisa saja merintis usahanya selagi masih bekerja. Modal awal bisa saja seadanya. Namun, karena pegawai masih memiliki penghasilan per bulan, pengembangan usaha bisa dilakukan secara berkala sembari dirinya mengabdikan diri untuk perusahaan.

Ketika sang pegawai merasa usahanya sudah cukup menguntungkan, baru dia boleh mengundurkan diri dari perusahaannya. Sehingga, ada baiknya memulai usaha dilakukan secara menyicil. Jangan terlalu memasang target yang muluk-muluk.

"Mulai saja dari modal seadanya. Nanti usaha tentu bisa berkembang selagi kita bekerja. Yang terpenting, kita bisa membagi prioritas saja, ada kalanya bekerja dan membangun usaha," imbuh dia.


Setali tiga uang, Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho juga menyebut bahwa tabungan adalah modal usaha dengan risiko paling rendah. Namun menurut dia, ada pakem utama yang harus dipenuhi. Setidaknya, pegawai harus mengumpulkan dana hingga 36 kali gaji bulanan terlebih dulu sebelum memutuskan resign dan memulai usaha.

Menurut dia, dana sebanyak 36 kali gaji bulanan itu merupakan angka yang paling ideal. Dana sebanyak itu bisa digunakan untuk memulai usaha sekaligus bertahan hidup dalam kondisi tak punya pekerjaan setidaknya dalam jangka waktu satu tahun. Hanya saja, menabung hingga berjumlah 36 kali gaji ini tentu membutuhkan upaya yang luar biasa.

"Jadi sebenarnya, ada cara lain, yakni sambil menabung kita mulai jalankan pelan-pelan usaha kita. Once bisnis kita sudah mulai settle dan memberikan hasil yang diinginkan, baru resign. Ingat, semuanya tak ada yang instan. Semuanya butuh waktu," kata Andi.

Jika memang masyarakat butuh tambahan modal, sebetulnya tidak ada salahnya untuk mencari pinjaman. Namun, jangan pernah jadikan bank atau lembaga pembiayaan lain sebagai sumber utama pinjaman.


Pada awalnya, pegawai bisa meminjam lebih dulu ke keluarga atau kerabat dekat. Sebab, jika nanti usaha yang dirintis sang pegawai gagal, tentu keluarganya tak akan sampai mengambil tindakan hukum jika utangnya tak dikembalikan.

"Paling kalau kita tidak bisa mengembalikan pinjaman keluarga, paling hanya kena omel saja. Kalau terlambat mengembalikan uang, kita juga bisa ngeles. Jadi ini sebenarnya risikonya rendah, makanya jangan pernah ke perbankan dulu. Apalagi kalau sampai ekstremnya meminjam ke perusahaan teknologi finansial, soalnya bunganya tinggi," tuturnya.

Namun, ada kalanya masyarakat merasa modalnya masih tidak cukup untuk memulai usaha. Modal tabungan dan pinjaman keluarga sudah terkuras habis. Tetapi, Andi menyarankan masyarakat jangan putus asa dulu.

Sebab, masyarakat masih bisa melakukan kemitraan dengan teman dekat di dalam memulai usaha. Namun sebelum itu, pastikan masing-masing pihak mengerti bagian setoran modalnya dan pembagian risiko keuangannya. Jangan sampai, tali persahabatan terputus gara-gara perihal bisnis.


"Namun yang penting, jangan sampai seluruh tabungan modal kita habis untuk berusaha. Pastikan ada beberapa bagian yang disisihkan setidaknya untuk bertahan hidup," pungkas dia. (lav)