EDUKASI KEUANGAN

Strategi untuk Milenial Timbun Dana untuk Investasi Tanah

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Sabtu, 05/01/2019 09:59 WIB
Strategi untuk Milenial Timbun Dana untuk Investasi Tanah Ilustrasi tanah kosong. (ANTARA/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Investasi tanah belum bisa disebut lumrah bagi kalangan milenial. Maklum, kocek yang dibutuhkan untuk membeli tanah relatif tak sedikit. Terlebih jika lokasi lahan yang diincar berada di kawasan strategis.

Meski tak lumrah, bukan berarti investasi tanah menjadi mustahil bagi anak muda. Riska Rahman buktinya. Perempuan kelahiran 1993 ini telah 'mencicipi' berinvestasi tanah sejak 2015 lalu, saat dirinya masih duduk di bangku kuliah.

Menggunakan tabungan yang ia kumpulkan sejak empat tahun sebelumnya, Riska membeli tanah di Lhokseumawe, Aceh, senilai Rp25 juta. Harganya memang terbilang murah dibanding lahan di ibu kota.


"Tanah yang dibeli berbentuk kebun isi buah-buahan. Di kampung harga jualnya berdasarkan isi tanahnya, jadi bukan luasnya," cerita Riska kepada CNNIndonesia.com, Kamis (3/1).

Ketertarikannya berinvestasi tanah timbul karena bujukan keluarga besarnya yang tinggal di Lhokseumawe. Kakeknya juga memiliki tanah yang ditanami berbagai buah-buahan, dan selalu mendulang untung saat musim panen.


"Setelah Kakek meninggal kebun-kebun Kakek dijaga oleh Ibu, Om, dan Tante. Mereka bilang investasi di tanah, enak karena uangnya mengalir terus," ucap Riska.

Perencana Keuangan ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie mengatakan kaum milenial yang baru bekerja dan masih memiliki gaji minim sekitar Rp5 juta bisa menyisihkan Rp1 juta dari pendapatannya untuk ditabung setiap bulan. Angka itu setara dengan 20 persen dari gaji atau jumlah ideal menabung per bulan.

"Pembelian tanah mungkin yang nilainya masih dibawah Rp100 juta. Ini karena milenial juga perlu untuk membeli rumah untuk tempat tinggal," ucap Prita.

Investasi memang penting untuk kaum milenial. Namun, jangan sampai mereka lupa membeli rumah sebagai kebutuhan pokok kelak ketika sudah memiliki keluarga.

Jika kalangan milenial sulit konsisten menabung 20 persen dari gaji, dan dianggap opsi yang berat, maka bisa menerapkan strategi dengan menjadi makelar tanah terlebih dahulu.


Makelar adalah perantara antara pembeli dan penjual tanah. Biasanya, makelar bisa juga diperbantukan untuk mencarikan tanah dengan model dan harga yang sesuai dengan keinginan calon pembeli. Begitu juga sebaliknya, makelar bisa saja diberi kuasa oleh pemilik tanah untuk mencarikan pembeli dengan harga tertentu.

Selain bisa mencari uang tambahan, kaum milenial juga bisa mempelajari cara mencari lokasi tanah yang bagus dan negosiasi harga dengan penjual.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan makelar minimal mendapatkan upah sebesar 5 persen dari harga barang yang dijual.

Keuntungan lain, lanjut dia, milenial yang menjadi makelar bisa lebih tajam memproyeksi lokasi tanah yang strategis dan memberi keuntungan dalam beberapa tahun kemudian.

Jika lokasi tanah yang strategis sudah ditemukan, dana pun sudah terkumpul, calon investor bisa segera bertransaksi memborong lahan. Namun, sebaiknya periksa terlebih dahulu surat sertifikat tanah yang dimiliki penjual.


"Karena kadang ada tanah warisan dijual luas misalnya yang harusnya dibagi-bagi, tapi itu sertifikat belum dipecah. Jadi kadang ribet kalau tanah warisan," kata Andi.

Salon pembeli juga harus memastikan lagi lokasi keberadaan tanah. Salah satunya, bertanya kepada warga sekitar mengenai kondisi lingkungan dan pembangunan yang akan dilakukan dekat tanah tersebut.

Investor juga perlu teliti terhadap status tanah yang hendak dibeli. Selain itu, investor juga perlu memeriksa secara rinci luas tanah yang akan dibeli.

"Lalu batasan fisik dalam bentuk pagar perhatikan juga," tutur Prita.

Strategi untuk Milenial Timbun Dana untuk Investasi TanahIlustrasi properti. (CNN Indonesia/Hesti Rika).

Tanah Bukan Investasi 'Liquid'

Investasi tanah kerap kali memberikan keuntungan berkali lipat bagi pemiliknya. Namun, tidak seperti investasi saham atau reksa dana, tanah bukan investasi yang mudah diperjualbelikan.

Walhasil, jika butuh uang cepat, jangan berharap pada penjualan tanah, apalagi ketika industri properti lesu seperti sekarang.

Maka itu, Prita mengingatkan investasi tanah bagi kaum milenial cukup berisiko, terutama jika tiba-tiba membutuhkan dana cepat. Menurut dia, investor perlu memastikan kecocokan antara jangka waktu investasi dan dana yang dibutuhkan.

"Jika dana dibutuhkan dalam waktu di bawah 10 tahun, tentu investasi tanah tak disarankan karena risiko likuiditas. Sebelum investasi, pastikan tujuan investasi," jelas Prita.

Idealnya, kalangan milenial mendahulukan investasi yang lebih liquid seperti saham dan reksa dana. Setelah itu, jika memiliki dana berlebih dan menganggur dalam waktu lebih dari 10 tahun, bisa digunakan untuk investasi jangka panjang berupa tanah.


Terkait jangka waktu, Prita memberikan opsi kepada pemilik tanah untuk mendiamkan tanahnya minimal 10 tahun atau setidaknya sampai lokasi keberadaan tanah itu lebih berkembang dari sisi infrastrukturnya dibandingkan saat membelinya dulu.

"Logikanya, membeli tanah kosong di daerah yang sudah berkembang maka harganya sudah naik," tandas Prita.

Terkait keuntungannya, Andi berpendapat saat ini investasi tanah tak selalu membuahkan keuntungan. Apalagi, bila tanah itu berada di lokasi bekas musibah, seperti banjir, gempa, atau tsunami.

"Orang kan berpikir selalu untung, padahal tidak. Kalau daerah itu terkena bencana ya orang malas untuk beli," tutur Andi.

Kembali pada kasus Riska. Dengan saran keluarga, ia membuat tanahnya menjadi kebun sawit. Riska menggelontorkan dana sebesar Rp5 juta-Rp10 juta untuk pembelian bibit awal dengan biaya perawatan per tahunnya sebesar Rp600 ribu.


Sampai saat ini, perempuan berumur 25 tahun ini belum mendapat keuntungan dari kebun sawitnya. Ini karena bibit sawit baru ditanam pada 2016 lalu. Sementara, sawit butuh waktu kurang lebih tiga tahun untuk berbuah dan bisa dijual.

"Tapi walaupun belum memberikan hasil, setidaknya saya sudah punya aset," pungkas Riska. (lav/bir)