EDUKASI KEUANGAN

Pentingnya Dana Darurat Sebelum Kondisi Gawat

ulf, CNN Indonesia | Sabtu, 29/12/2018 10:31 WIB
Pentingnya Dana Darurat Sebelum Kondisi Gawat Puing bangunan perumahan yang porak-poranda akibat bencana gempa dan dan pencairan tanah (likuifaksi) di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ibarat peribahasa sedia payung sebelum hujan, dana darurat terutama jika terjadi bencana perlu disiapkan jauh-jauh hari. Maklum, sebagai manusia kita tidak bisa memprediksi kapan bencana datang dan kita butuh dana darurat.

Dalam situasi genting, kita pasti tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Termasuk dari sisi kesiapan keuangan. Oleh karena itu sebelum terlambat, kita patut memperhitungkan dana darurat dalam pengelolaan keuangan sedini mungkin.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menjelaskan dana darurat berbeda dengan pos tabungan dan investasi. Tabungan dan investasi mempunyai tujuan spesifik serta waktu penggunaan dana terukur.


Semisal, untuk tabungan pendidikan sekolah anak, pensiun hari tua, dana kesehatan yang digunakan ketika sakit, dan sebagainya. 
Sedangkan kondisi darurat merujuk kepada hal-hal yang tidak diinginkan tetapi bisa jadi menimpa kita kapan saja, seperti; bencana alam, kebakaran, dan musibah lainnya yang tidak terduga.


"Untuk dana darurat kita siapkan tapi kita tidak tahu kapan dan untuk tujuan apa akan kita gunakan," jelas Andy.

Andy menyatakan sebaiknya dana darurat disimpan secara terpisah dari tabungan dan investasi. Tujuannya, menghindari penggunaan dana darurat untuk kepentingan di luar kondisi mendesak.

Idealnya, lanjut Andy, setiap orang memiliki dana darurat sebesar tiga kali penghasilan bulanan. Jumlah itu ditujukan bagi orang yang belum berkeluarga atau masih single. Sedangkan untuk  yang sudah berkeluarga, jumlah dana darurat tentu lebih besar.

Andy bilang idealnya sebuah rumah tangga memiliki dana darurat sebesar enam kali penghasilan bulanan. 
Dengan perhitungan itu, maka bisa dibuat contoh perhitungan. Misal, karyawan single dengan gaji sebesar Rp7 juta per bulan. Ia sebaiknya memiliki dana darurat minimal Rp21 juta.

Pentingnya Dana Darurat Sebelum Kondisi GawatIlustrasi bencana. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Uang itu tidak boleh dikeluarkan untuk kepentingan yang sifatnya tidak mendesak. 
Jumlah dana darurat memang tidak kecil, tetapi kita tidak perlu khawatir. Kita bisa menyiapkannya sedikit demi sedikit dari penghasilan bulanan.

Untuk alokasi untuk dana darurat, Andy bilang, sebesar 10 persen dari penghasilan bulanan. Itu berarti, karyawan yang memiliki gaji Rp7 juta per bulan seyogyanya menyisihkan Rp700 ribu untuk dana darurat.

Selaian 10 persen untuk dana darurat, orang juga bisa menyisihkan sebesar 10 persen untuk tabungan dan investasi, 10 persen untuk kepentingan pengembangan diri, 10 persen untuk hal yang sifatnya hiburan, dan 5 persen untuk kegiatan yang bersifat sosial.

"Lalu sebanyak 55 persen untuk kebutuhan hidup dalam sebulan," jelas Andy.


Andy memaklumi jika dana darurat kerapkali terlewat dalam anggaran bulanan. Untuk itu ia memberikan tips agar kita membayangkan dan memahami potensi risiko dalam kondisi mendesak tanpa memiliki kecukupan keuangan. Hal itu tentunya akan membebani diri kita sendiri.

"Jadi kemalasan untuk mempersiapkan dana darurat bisa dilawan dengan kekhawatiran terhadap hal buruk yang akan terjadi kalau kita tidak sisihkan dari sekarang," kata Andy.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad memiliki pandangan yang serupa. Ia mengatakan dana darurat harus dibedakan dengan uang tabungan dan investasi.

Pemisahan ini bertujuan agar dalam keadaan darurat kita sudah siap secara finansial tanpa mengurangi porsi dana lainnya, seperti untu; dana kesehatan, pendidikan, dan pensiun. Skenario terburuk, kata Tejasari, jika kita memakai dana pendidikan saat kondisi darurat, maka setelah masalah tuntas justru kita harus menyisihkan dari nol untuk tabungan pendidikan.


"Dengan adanya dana darurat kehidupan kita berjalan normal setelah kondisi darurat bisa kita lewati," kata Tejasari.

Menurutnya besaran ideal untuk dana darurat yaitu minimal tiga kali pengeluaran bulanan. Jumlahnya tentu akan berbeda bagi Anda yang masih single dan sudah berkeluarga.

"Yang sempurnanya kalau sudah berkeluarga adalah 12 kali pengeluaran bulanan," kata Tejasari.


Ia bilang, kita bisa mendistribusikan penyimpanan dana darurat pada beberapa instrumen. Namun, dengan catatan dana darurat disimpan pada instrumen yang mudah dicairkan saat kondisi genting.

Bagi Anda yang cukup kewalahan dengan alokasi anggaran dana darurat 10 persen setiap bulan, Tejasari menyarankan agar Anda menyisihkan 10 persen penghasilan bulanan untuk kepentingan tabungan, investasi, dan dana darurat. Namun demikian, Anda cenderung membutuhkan waktu lama hingga besaran dana darurat ideal terkumpul.

Tejasari menuturkan masyarakat harus mulai sadar akan pentingnya memiliki dana darurat. Apalagi, dengan berbagai bencana alam yang menimpa Indonesia akhir-akhir ini. Namun demikian, kita harus tetap berfikir positif sembari waspada dengan segala kondisi.

"Jika suatu hari kita butuh uang dalam jumlah banyak dan tidak mungkin meminjam, maka hanya diri sendiri yang bisa menolong," kata Tejasari.

(agt)