BI Sebut Rupiah Mendapatkan Topangan dari Empat Penjuru

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 12:15 WIB
BI Sebut Rupiah Mendapatkan Topangan dari Empat Penjuru Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan rupiah belakangan ini banyak mendapatkan topangan dari empat faktor, salah satunya aliran modal asing. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menyebut ada empat faktor yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan faktor pertama datang dari aliran modal asing (capital inflow) ke pasar Indonesia.

Dalam catatan BI, capital inflow ke Indonesia sejak awal tahun hingga Kamis (24/1) mencapai Rp19,2 triliun. Sekitar Rp12,07 triliun, masuk ke pasar saham dalam negeri. "Ini menandakan bahwa kepercayaan diri investor asing terhadap Indonesia terus kuat," kata Perry di Jakarta, Senin (28/1). 

Faktor kedua datang dari upaya pemerintah mendorong ekspor. Upaya tersebut ia sebut telah meningkatkan kepercayaan pasar dan berdampak pada penguatan rupiah.

Pada Kamis (24/1) pemerintah menyampaikan rencana pencabutan ketentuan laporan dari lembaga surveyor bagi eksportir yang dinilai kerap memperlambat proses ekspor.  Menurut Perry, kebijakan itu bisa meningkatkan efisiensi logistik sehingga bisa menggenjot ekspor. 



"Selanjutnya kami koordinasi dengan pemerintah untuk mendorong ekspor baik otomotif, elektronik, garmen, dan produk makanan minuman di samping mempersiapkan kebijakan lanjutan untuk subtitusi impor baik baja dan farmasi," ujarnya.

Faktor ketiga, perkembangan mekanisme pasar. Saat ini, lanjut Perry, pasar Indonesia tidak hanya hanya bergantung pada perdagangan spot dan swap, tetapi juga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

"Dari waktu ke waktu volume DNDF terus berlangsung. Kami pastikan bahwa likuiditas valuta asing ada, baik di pasar spot, swap, dan DNDF," imbuhnya.

Sedangkan keempat, ketahanan eksternal Indonesia yang semakin membaik. Perbaikan tercermin dari peningkatan surplus neraca modal, neraca pembayaran, dan penurunan defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD).


BI memproyeksi neraca pembayaran Indonesia pada kuartal I 2019 bakal surplus di kisaran US$4-5 miliar. Surplus tersebut sejalan dengan prediksi penurunan CAD dibanding kuartal IV 2018 yang diprediksi mencapai US$8,8 miliar.

"Secara keseluruhan sisi fundamental neraca pembayaran lebih baik dengan defisit transaksi berjalan yang menurun dan siklus neraca modal semakin meningkat," kata Perry.

Sebagai informasi Senin (24/1) pagi, rupiah di pasar spot dibuka pada posisi Rp14.038 per dolar AS. Rupiah berhasil menguat 0,39 dibandingkan penutupan pada Jumat (26/1) yakni Rp14.092 per dolar AS.

(ulf/agt)