ANALISIS

Maslahat dan Mudarat Penyederhanaan Golongan Listrik

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 17:49 WIB
Maslahat dan Mudarat Penyederhanaan Golongan Listrik Setelah tertunda dua tahun, PLN akan mengejar realisasi penyederhanaan golongan listrik. Kajian saat ini, daya listrik rumah tangga dipatok minimal 4.400 VA. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah tertunda dua tahun, PT PLN (Persero) berencana merealisasikan program penyederhanaan golongan listrik tahun ini. Kajian sementara perusahaan menyebut pelanggan listrik rumah tangga akan dipatok minimal 4.400 - 5.500 VoltAmpere (VA).

Namun, besaran daya minimal itu masih belum diputuskan, karena masih menunggu persetujuan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Informasi saja, saat ini ada 37 golongan pelanggan listrik yang besaran tarifnya diatur Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 41 Tahun 2017.

Pun demikian, sejalan dengan program penyederhanaan golongan listrik, perusahaan akan terlebih dahulu menawarkan insentif penambahan daya listrik. Insentif ini mendorong masyarakat yang sebagian besar memiliki daya di bawah 2.200 VA untuk mengerek daya listrik mereka sesuai kebutuhan yang terus meningkat.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, masyarakat diuntungkan dengan insentif yang ditawarkan dari program penyederhanaan golongan listrik. Pasalnya, jika penambahan daya dibebankan ke masyarakat, umumnya merogoh kocek yang tak sedikit.


Untuk perubahan daya dari 1.300 VA saja, pelanggan atau masyarakat harus membayar Rp4,06 juta. Sementara, perubahan daya dari 2.200 VA dipatok Rp3,19 juta, daya dari 4.400 VA dipatok Rp1,06 juta.

Keuntungan lain, lanjut Fabby, masyarakat bisa menyesuaikan daya dengan kebutuhan listrik yang meningkat. Sebut saja, penggunaan kompor listrik yang membutuhkan daya setidaknya 1.000 - 2.000 VA.

"Kalau satu rumah punya dua kompor listrik dan dinyalakan sama-sama, minimal harus punya 3.300 VA. Amannya 4.400 VA. Apalagi, masyarakat kelas menengah yang sudah punya AC (pendingin ruangan)," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (31/1).

Jika masyarakat tidak mengubah pola konsumsi listriknya, sebetulnya penambahan daya listrik tidak akan mempengaruhi pengeluarannya. Toh, sistem abonemen atau biaya berlangganan untuk golongan 1.300 VA sudah dihapuskan dan diganti dengan penggunaan minimal. Sehingga, besaran tarif listrik antar golongan rumah tangga sama.

Maslahat dan Mudarat Penyederhanaan Golongan ListrikIlustrasi listrik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Bagi PLN sendiri, penyederhanaan golongan listrik akan mempermudah administrasi dan pencatatan rekening, mengingat banyaknya golongan listrik saat ini. Namun demikian, Fabby menilai ada beberapa hal yang juga perlu diperhatikan.

Pertama, penambahan daya untuk menunjang penyederhanaan golongan membutuhkan infrastruktur instalasi jaringan yang mumpuni. Makanya, PLN harus menyiapkan investasi untuk menunjang penyelenggaraan program. Apabila penambahan daya tidak dibarengi perbaikan infrastruktur, maka akan mengancam keamanan dan keselamatan pelanggan.

"Harus ada perhatian dari pelanggan listrik agar instalasi jaringan memenuhi syarat dan gardu PLN mampu menerima lonjakan," imbuh dia.

Kedua, PLN dan Kementerian ESDM harus mensosialisasikan kepada masyarakat dengan baik. Sehingga, pemahaman masyarakat akan penggunaan listrik meningkat, tetapi tidak untuk pemborosan energi.


Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman menargetkan realisasi insentif program penambahan daya listrik kepada pelanggan secara bertahap, baik melalui program diskon maupun gratis, pada tahun ini.

Sebagai langkah awal, perseroan akan mengimplementasikan program ini di Pulau Jawa dan Sumatera, yang infrastrukturnya siap dan tren kebutuhan pelanggan meningkat. Hal itu berkaca dari penggunaan kompor listrik di kalangan rumah tangga, serta mobil listrik.

Genjot Konsumsi Listrik

Fabby Tumiwa menegaskan bahwa penyederhanaan golongan listrik perlu dilakukan. Pun demikian, ia tak melihat urgensinya untuk buru-buru dilakukan. "Kalau urgensi sih tidak ada. Tetapi, menurut saya, penyederhanaan golongan tarif memang perlu," tutur dia.

Maklum, penyederhanaan golongan listrik bukan cuma akan mempermudah administrasi dan pencatatan rekening oleh PLN. Tetapi juga, berpotensi mendongkrak penjualan listrik, utamanya pelanggan korporat.


Hal ini menjadi penting mengingat tren perlambatan penjualan listrik terus terjadi sejak 2012 lalu. "Dalam empat tahun terakhir, rata-rata pertumbuhannya hanya 5 persen," terang Fabby.

Adapun PLN menargetkan penjualan listrik mencapai 245 TeraWatthour (TWh) pada tahun ini atau naik sekitar 5,6 persen dari tahun lalu yang hanya berkisar 232 TWh.

Syofvi Felienty Roekman mengakui insentif untuk program penyederhanaan golongan listrik bisa meningkatkan konsumsi listrik pelanggan.


"Kan sebelumnya ada program diskon 17 Agustus, hari listrik PLN, itu kan ada diskon tambah daya. Ternyata, program itu cukup mendorong (konsumsi) kami," katanya.

Meskipun, ia memastikan nantinya perseroan harus merogoh kocek untuk menambah infrastruktur penambahan daya. Namun, ia meyakini peningkatan konsumsi listrik pengguna akan bisa menutup biaya tersebut.


(bir)