Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) malah menempatkan rupiah di posisi Rp13.976 per dolar AS atau menguat tipis dari penutupan Jumat kemarin yakni Rp13.978 per dolar AS.
Hari ini, rupiah melemah beserta mata uang utama Asia lainnya. Baht Thailand tercatat melemah 0,06 persen, kemudian ringgit Malaysia dan won Korea Selatan masing-masing melemah 0,09 persen dan 0,16 persen terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya mata uang Asia, mata uang negara maju juga menunjukkan tren serupa. Euro tercatat melemah 0,03 persen terhadap dolar AS, sementara poundsterling Inggris melemah 0,08 persen. Bahkan, dolar Australia sampai harus keok 0,26 persen melawan dolar AS.
Dengan demikian, pasar melihat bahwa perekonomian AS tengah mengalami kemajuan sehingga kepercayaan investor terhadap dolar AS meningkat lagi. Namun menurutnya, masih ada peluang rupiah kembali menguat terhadap dolar AS. Ia bahkan memperkirakan rupiah bisa menguat ke angka Rp13.925 per dolar AS.
Penguatan tersebut mungkin terjadi karena pelaku pasar masih mengapresiasi data inflasi Januari yang hanya 0,32 persen atau lebih rendah dari Desember yang 0,62 persen. Bukan hanya itu saja, optimisme investor terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 yang diperkirakan akan mencapai 5,15 persen diperkirakan akan memperkuat topangan terhadap rupiah.
"Dan melesat ke angka Rp13.925 per dolar AS ini cukup luar biasa lho. Dan kondisi internal yang cukup kuat ini berhasil bikin Indonesia tidak terjerembab di perdagangan hari ini," papar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/2).
Sementara itu, analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan data ketenagakerjaan AS memang bikin aksi profit taking pada hari ini hingga membuat dolar AS menguat. Namun, ia juga optimistis rupiah bisa kembali hijau pada Rabu nanti.
"Selama seminggu kemarin penguatan rupiah kan sudah lebih dari 1 persen wajar ada koreksi sedikit," pungkas Dini. (glh/agt)