Rupiah Tertekan Rilis Data Penciptaan Lapangan Kerja AS

CNN Indonesia | Senin, 04/02/2019 17:05 WIB
Rupiah Tertekan Rilis Data Penciptaan Lapangan Kerja AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (4/2) ini diperdagangkan Rp13.962 per dolar AS. Posisi rupiah ini melemah 0,1 persen dibandingkan penutupan pada Jumat (1/2) yakni Rp13.948 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) malah menempatkan rupiah di posisi Rp13.976 per dolar AS atau menguat tipis dari penutupan Jumat kemarin yakni Rp13.978 per dolar AS.

Hari ini, rupiah melemah beserta mata uang utama Asia lainnya. Baht Thailand tercatat melemah 0,06 persen, kemudian ringgit Malaysia dan won Korea Selatan masing-masing melemah 0,09 persen dan 0,16 persen terhadap dolar AS.


Kemudian, dolar Singapura ikut melemah 0,24 persen dan peso Filipina tercatat melemah 0,3 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, yen Jepang, rupee India, dan yuan China menjadi tiga mata uang dengan performa paling buruk, yang mencatat pelemahan masing-masing 0,33 persen, 0,62 persen, dan 0,69 persen.



Tak hanya mata uang Asia, mata uang negara maju juga menunjukkan tren serupa. Euro tercatat melemah 0,03 persen terhadap dolar AS, sementara poundsterling Inggris melemah 0,08 persen. Bahkan, dolar Australia sampai harus keok 0,26 persen melawan dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan saat ini rupiah terkapar setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada Jumat silam. Dari data tersebut, AS ternyata bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 304 ribu orang atau lebih tinggi dari proyeksi semula yang hanya 165 ribu orang.

Dengan demikian, pasar melihat bahwa perekonomian AS tengah mengalami kemajuan sehingga kepercayaan investor terhadap dolar AS meningkat lagi. Namun menurutnya, masih ada peluang rupiah kembali menguat terhadap dolar AS. Ia bahkan memperkirakan rupiah bisa menguat ke angka Rp13.925 per dolar AS.

Penguatan tersebut mungkin terjadi karena pelaku pasar masih mengapresiasi data inflasi Januari yang hanya  0,32 persen atau lebih rendah dari Desember yang 0,62 persen. Bukan hanya itu saja, optimisme investor terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 yang diperkirakan akan mencapai 5,15 persen diperkirakan akan memperkuat topangan terhadap rupiah.


"Dan melesat ke angka Rp13.925 per dolar AS ini cukup luar biasa lho. Dan kondisi internal yang cukup kuat ini berhasil bikin Indonesia tidak terjerembab di perdagangan hari ini," papar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/2).

Sementara itu, analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan data ketenagakerjaan AS memang bikin aksi profit taking pada hari ini hingga membuat dolar AS menguat. Namun, ia juga optimistis rupiah bisa kembali hijau pada Rabu nanti.

"Selama seminggu kemarin penguatan rupiah kan sudah lebih dari 1 persen wajar ada koreksi sedikit," pungkas Dini. (glh/agt)