ANALISIS

Jangan Terlena, Tekanan Rupiah Belum Sirna

ulf, CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 11:44 WIB
Jangan Terlena, Tekanan Rupiah Belum Sirna Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru. Setelah sempat tersungkur ke level Rp15.238 per dolar AS pada 9 Oktober 2018, rupiah mulai bangkit.

Perlahan namun pasti, rupiah mulai menguat. Pada Kamis (31/1) kemarin, atau empat bulan setelah mengalami keterpurukan parah, rupiah akhirnya kembali ke level bawah Rp14 ribu per dolar AS.

Pada Jumat (1/2) ini, rupiah diperdagangkan di level Rp13.945 per dolar AS.  Saat melemah, sejumlah pengamat sepakat rupiah memang mendapatkan banyak tekanan, tidak hanya dari sentimen yang berasal dari dalam negeri, tapi juga luar negeri.


Dari dalam negeri, tekanan rupiah datang dari pelebaran defisit neraca transaksi berjalan. Pada kuartal I 2018, defisit neraca transaksi berjalan masih 2,2 persen dari PDB. 


Tapi di kuartal II dan III, defisit melebar menjadi 3 persen dan 3,37 persen dari PDB. Sementara itu dari sisi global, tekanan rupiah datang dari normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve.

Sepanjang tahun kemarin The Fed agresif menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali. Kebijakan tersebut memicu aliran modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia sehingga membuat rupiah tertekan.

Selain itu, tekanan juga datang dari perang dagang yang bergolak antara Amerika Serikat dan China. Perang dagang telah menimbulkan ketidakpastian ekonomi global sehingga membuat rupiah tertekan.

Tapi tekanan tersebut awal tahun ini sudah mulai berkurang. Karena itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede optimis rupiah akan bergerak positif pada tahun ini.


Optimisme ia dasarkan pada perkiraannya yang menunjukkan bahwa  sentimen global penekan rupiah sepanjang tahun lalu tidak akan terjadi lagi tahun ini. Josua mengatakan keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 2,25 persen-2,50 persen di awal tahun ini membawa angin segar bagi negara negara berkembang termasuk Indonesia dan rupiah.

Terbukti, beberapa saat setelah Fed menahan bunga acuan mereka, rupiah terbang ke level Rp13.972 per dolar AS atau menguat 158 poin atau 1,12 persen. Ini merupakan posisi rupiah paling perkasa terhadap dolar AS sejak awal tahun (year to date/ytd) di pasar spot.

Tidak hanya itu, rupiah bahkan tercatat menjadi yang paling perkasa di antara negara Asia. Di pasar spot sendiri, sejak awal tahun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat menguat 2,9 persen (ytd).

Sebagai perbandingan, pada 31 Desember 2018 posisi rupiah di Rp14.390 per dolar AS. Melangkah ke 2019, tepatnya pada 2 Januari 2019 rupiah justru melemah ke Rp14.458 per dolar AS, sekaligus menjadi titik terlemah sejak awal tahun.


Setelah itu tren pergerakan rupiah terus menguat hingga pada perdagangan sore kemarin, rupiah berada di level Rp13.972 per dolar AS. Pagi ini, rupiah kembali menguat 0,2 persen ke posisi Rp13.945 per dolar AS. 

Josua memperkirakan ruang penguatan bagi rupiah masih terbuka. Apalagi saat memutuskan mempertahankan suku bunga acuan tersebut The Fed menyampaikan kondisi ekonomi global masih lemah.

Di saat yang sama mereka juga melihat adanya ancaman yang mungkin akan menghambat pertumbuhan ekonomi AS. Josua mengatakan ancaman tersebut kemungkinan besar akan membuat agresivitas The Fed dalam mengerek suku bunga acuan mereka berkurang.

"Tahun ini dengan adanya potensi ekonomi AS slowing (melambat) dan ekspektasi The Fed menaikkan suku bunga tidak seagresif tahun lalu sekitar satu hingga dua kali, membuat investasi di negara berkembang akan lebih atraktif. Itu akan menopang rupiah," kata Josua kepada CNNIndonesia.com, Kamis (31/1) malam.

Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Selain sentimen kebijakan The Fed, Josua mengatakan faktor negosiasi dagang antara AS dan China yang mulai menemukan titik terang juga berpotensi memberi obat kuat bagi rupiah.

Apalagi di tengah sentimen postif dari luar tersebut, rupiah diperkirakan akan mendapatkan tenaga dari perbaikan dari sisi defisit transaksi berjalan. Ia memprediksi angka defisit bisa ditekan menjadi 2,7 persen dari PDB tahun ini.

Bank Indonesia (BI) sudah meramalkan angka defisit neraca transaksi berjalan 2019 akan mencapai 2,5 persen dari PDB. Josua menyatakan perbaikan defisit neraca transaksi berjalan tahun ini akan ditopang oleh penurunan aktivitas impor.

"Kami melihat impor berpotensi agak menurun kalau dilihat dari aktifitas investasi yang diperkirakan tahun ini sedikit melandai. Kemudian harga minyak juga turun, sehingga bisa menekan dari sisi defisit migas," imbuhnya.


Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjandra mengatakan rupiah juga berpotensi mendapatkan angin segar dari pemberlakuan kebijakan wajib parkir devisa hasil ekspor di dalam negeri. Namun demikian, baik Josua maupun Ariston minta pemerintah tak terlena dengan penguatan nilai tukar rupiah saat ini.

Menurutnya, bila melihat pelemahan rupiah sebanyak 6,8 persen sepanjang tahun, penguatan yang terjadi sekarang ini belum seberapa. Selain itu kata mereka, rupiah juga belum lepas dari ancaman.

Salah satunya, dari pelambatan realisasi investasi. Badan Koordinasi penanaman Modal (BKPM) mencatat Penanaman Modal Asing (PMA) 2018 anjlok 8,8 persen dari Rp430,5 triliun ke Rp392,7 triliun.

Sedangkan, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat Rp324,8 triliun atau tumbuh 25,3 persen dibanding tahun sebelumnya Rp262,3 triliun.


Secara keseluruhan, meskipun realisasi investasi bertumbuh namun cenderung melambat. Karena, pada 2017 lalu realisasi investasi bisa mencapai Rp692,8 triliun atau tumbuh 13,1 persen. dibanding tahun sebelumnya.

"Memang rupiah saat ini masih berpeluang menguat, karena kondisinya masih under value, dalam artian masih ada ruang penguatan. Tetapi, ruang penguatan itu memang agak terbatas karena faktor utama tahun politik dan data investasi BKPM dimana modal asing menurun, meskipun secara keseluruhan naik," ujarnya.

Sementara Ariston Tjendra rupiah juga bisa mendapatkan ancaman dari perang dagang antara AS dengan China, terutama bila negoisasi yang dilakukan oleh kedua negara tersebut gagal membuahkan hasil.

Menurutnya, kalau negosisasi gagal membuahkan kesepakatan,  itu bisa melahirkan ketidakpastian ekonomi global yang bisa menekan rupiah. "Ini bisa mendorong ketidakpastian ekonomi dan pasar akan meninggalkan emerging market dan rupiah untuk kembali ke aset aman. Pelambatan pertumbuhan ekonomi global juga menjadi sentimen negatif untuk rupiah," katanya.

Dari sisi domestik ancaman juga bisa datang dari kegagalan pemerintah dalam menjalankan kebijakan wajib parkir devisa hasil ekspor. "Bila masih belum menurunkan defisit di laporan-laporan transaksi berjalan yang biasanya dirilis per kuartal, maka rupiah bisa tertekan kembali," ujarnya. 

Dengan memperhitungkan faktor pemicu serta tantangan nilai tukar rupiah tahun ini, Ariston meramalkan nilai tukar rupiah bisa kembali ke posisi Rp13 ribu per dolar AS dengan kisaran support Rp13.150 per dolar AS.

Sementara itu Josua memperkirakan rupiah akan menguat di kisaran Rp13.800-Rp14.300 per dolar AS. "Saya pikir bisa menguat paling tidak bisa ke level Rp13.800 per dolar AS sepanjang tahun ini," katanya. 

Josua mengatakan rupiah bakal lebih bertenaga di semester kedua 2019, terutama setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Selesainya pesta demokrasi akan memberikan kepastian dan menambah keyakinan bagi investor untuk menanamkan uang mereka di dalam negeri.

"Pada semester pertama kemungkinan masih akan bergerak mendekati Rp14 ribu, lalu semester kedua kalau investasi dan sentimen global membaik bisa kembali ke Rp13.800 per dolar AS," katanya.

(agt)