Kontribusi Sektor Industri ke Pertumbuhan Ekonomi Makin Ciut

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 15:59 WIB
Kontribusi Sektor Industri ke Pertumbuhan Ekonomi Makin Ciut Ilustrasi industri manufaktur. (REUTERS/Issei Kato)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengaku daya dukung industri terhadap pertumbuhan ekonomi makin menurun. Padahal, sektor manufaktur merupakan kunci untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi.

Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan sebelum krisis ekonomi 1998, pertumbuhan sektor manufaktur lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Namun, setelah krisis ekonomi 1998 pertumbuhan sektor manufaktur lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan industri manufaktur sepanjang 2018 hanya mencapai 4,27 persen., turun dari tahun sebelumnya sebesar 4,29 persen. Padahal, pertumbuhan ekonomi di tahun lalu naik dari 5,07 persen pada 2017 menjadi 5,17 persen.


"Ini berarti bahwa mesin penggerak pertumbuhan ekonomi bukan datang dari sektor manufaktur, baik (pendorong pertumbuhan ekonomi) dari sektor perdagangan, telekomunikasi, maupun transportasi," kata Bambang di kantornya, Jumat (8/2).


Menurut Bambang, harga komoditas yang saat ini menjadi tumpuan perekonomian sangat bergejolak. Untuk itu, memang diperlukan upaya untuk memaksimalkan potensi
harga komoditas sangat bergejolak memaksimalkan potensi sektor manufaktur sebagai penggerak ekonomi lantaran sifatnya yang lebih stabil.

Beberapa negara, lanjutnya, telah berhasil memanfaatkan sektor manufaktur untuk naik kelas, misalnya Thailand, Malaysia, dan Korea Selatan.

"Jika harga komoditas jatuh, maka akan mempengaruhi neraca perdagangan kita. Lalu, defisit transaksi berjalan akan melebar, ini juga akan mempengaruhi nilai tukar mata uang kita. Oleh karena itu, mari kita jangan bergantung kepada komoditas, tetapi berpindah kepada manufaktur," paparnya.

Bambang menjelaskan guna merealisasikan dorongan pada sektor manufaktur, pemerintah akan berupaya untuk menghubungkan perusahaan manufaktur Indonesia rantai nilai global (global value chain). Langkah pertama, lanjutnya, dilakukan dengan mengidentifikasi produk-produk potensial untuk terhubung pada rantai nilai global.


"Untuk ikut dalam global value chain bukan berarti harus punya merek sendiri. Kita bisa memproduksi komponen suatu produk di Indonesia. Kami sudah identifikasi beberapa produk seperti makanan, elektronik, dan otomotif untuk bersaing di global," jelas dia.

Dengan demikian, Bambang juga berharap upaya ini mampu menggenjot nilai tambah dan indeks kompleksitas Indonesia. Saat ini, kata Bambang, indeks kompleksitas Indonesia terus menurun. Hal ini menandakan bahwa produk Indonesia kurang memiliki nilai tambah.

Berdasarkan data United Nations Comtrade, pada 2013 indeks kompleksitas Indonesia berada posisi 62, lalu pada 2014 pada peringkat 53, kemudian tahun 2015 menjadi 58, dan tahun 2016 di posisi 59. (ulf/agi)