Menko Darmin Sebut Harga BBM Nonsubsidi Bisa Tekan Inflasi

CNN Indonesia | Selasa, 12/02/2019 19:16 WIB
Menko Darmin Sebut Harga BBM Nonsubsidi Bisa Tekan Inflasi Menko Perekonomian Darmin Nasution mendukung penurunan harga BBM non-subsidi, karena dianggap dapat meringankan beban inflasi pada Februari 2019. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mendukung penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang dilakukan akhir pekan lalu, karena dianggap dapat meringankan beban kenaikan harga barang (inflasi) pada Februari 2019.

Berdasarkan tren, pergerakan harga BBM nonsubsidi cukup signifikan terhadap inflasi bulanan. Hanya saja menurut Darmin, pemerintah masih perlu menghitung kembali dampak pasti dari penurunan harga BBM nonsubsidi terhadap inflasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2018 mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) kelompok transportasi, jasa keuangan, dan komunikasi meningkat 0,28 persen gara-gara kenaikan harga BBM nonsubsidi. Ini menjadi salah satu biang keladi utama inflasi Februari tahun lalu yang mencapai 0,99 persen.


Tren itupun kembali terjadi pada Oktober lalu, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mencatat inflasi bulanan sebesar 0,42 persen dan berkontribusi terhadap inflasi sebesar 1 persen.


Penurunan harga BBM nonsubsidi pada Januari lalu memberi andil deflasi sebesar 0,04 persen, sehingga akumulasi inflasi Januari bisa tertahan di level 0,32 persen secara bulanan.

"Tentu saja, penurunan harga BBM ini positif. Tapi seberapa besar dampaknya ke inflasi, nah ini yang masih perlu dihitung," jelas Darmin di kantornya, Selasa (12/2).

Penurunan harga BBM nonsubsidi tentu diharapkan bisa mendorong daya beli masyarakat. Sehingga menurut Darmin, penurunan harga BBM nonsubsidi ini juga berdampak baik bagi pertumbuhan konsumsi.

Pertumbuhan konsumsi bisa menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal I ini. Menurut Darmin, penurunan harga BBM ini bisa melengkapi dorongan konsumsi yang dilakukan masyarakat pada masa-masa kampanye pemilu presiden.


"Kalau semuanya bergabung, tentu ada dampak positif ke perekonomian," jelas Darmin.

Pada Minggu (10/1) kemarin, PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp10.200 hingga Rp10.600 per liter menjadi Rp9.850 per liter hingga Rp10.150 per liter.

Harga jual BBM eceran non-subsidi juga diikuti oleh badan usaha lain seperti PT Shell Indonesia yang menurunkan harga jualnya dari Rp9.950 per liter ke Rp9.300 per liter untuk bahan bakar beroktan 90 dan menurunkan harga dari Rp10.450 per liter ke Rp9.900 per liter untuk BBM dengan kadar oktan 92.

Begitu pun dengan PT Total Oil Indonesia yang menurunkan harga BBM oktan 90 dari Rp9.900 per liter menjadi Rp9.300 per liter dan menurunkan harga dari Rp10.400 per liter menjadi Rp9.900 per liter untuk BBM kadar oktan 92.

(glh/lav)