Komponen-komponen Penyebab Harga Tiket Pesawat Mahal

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 17:12 WIB
Komponen-komponen Penyebab Harga Tiket Pesawat Mahal Ilustrasi penerbangan. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo meminta maskapai-maskapai untuk menurunkan harga tiket pesawat mulai pekan ini. Permintaan Jokowi tak lepas dari harga tiket pesawat yang dikeluhkan meningkat tajam, bahkan disebut pengusaha berdampak pada bisnis pariwisata dan perhotelan.

Permintaan tersebut pun langsung direspons oleh maskapai, salah satunya maskapai plat merah, PT Garuda Indonesia Tbk. Garuda Indonesia secara grup memutuskan untuk menurunkan harga tiket pesawat mereka hingga 20 persen.

Adapun Garuda Indonesia Group terdiri dari Garuda Indonesia, serta Sriwijaya Air dan NAM Air yang berada di bawah Kerja Sama Operasi (KSO) grup maskapai plat merah tersebut.


Namun, apa sebenarnya komponen yang mempengaruhi harga tiket?

Ketua Umum INACA IGN Ashkara Danadiputra sebelumnya mengatakan saat ini komponen biaya avtur mendominasi sekitar 40 persen dari struktur biaya operasional maskapai. Tak ayal, INACA meminta pemerintah menurunkan harga avtur.

Kendati demikian, INACA memastikan bahwa harga avtur tidak secara langsung mengakibatkan harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. "Beban biaya operasional penerbangan lainnya, seperti leasing pesawat, maintenance dan lain lain memang menjadi lebih tinggi di tengah meningkatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat," tulis Ashkara.


Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman menjelaskan harga tiket pesawat memang dipengaruhi oleh biaya operasional yang harus ditanggung maskapai. Selain avtur, biaya operasional maskapai mencakup biaya sewa pesawat, biaya perawatan dan asuransi pesawat, dan gaji pegawai. Sementara selain biaya operasional maskapai, komponen pajak bandara yang kini sudah menyatu dengan harga tiket pesawat juga turut mempengaruhi.

Sebagian besar biaya operasional tersebut, diakui Gerry, dibayarkan maskapai dalam mata uang asing. Oleh karena itu nilai tukar rupiah pun turun mempengaruhi biaya yang ditanggung maskapai dan kemudian berpengaruh kepada harga tiket.

Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut, menurut dia, harga tiket pesawat memang bersifat fluktuatif atau dapat berubah sesuai dengan musim. Biasanya pada musim ramai (peak season), seperti musim liburan, harga tiket pesawat meningkat tajam. Namun, biasanya harga tiket pesawat akan kembali turun.

"Sebenarnya harga tiket pesawat itu fluktuatif, tetapi yang menjadi pertanyaan kenapa menaikkan harga tiket disaat musim sepi penumpang," ujar Gerry kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/2).

Ia menilai alasan maskapai menaikkan tarif akibat harga avtur yang mahal tak masuk akal. Apalagi harga minyak sudah bergerak melemah dan nilai tukar rupiah mulai bergerak menguat.


"Sejak awal tahun, minyak sudah melemah dan kurs rupiah sudah membaik, jadi tidak ada banyak alasan sebenarnya mematok harga tiket mahal," jelas dia.

Seharusnya, menurut dia, maskapai transparan dalam menaikkan harga tiket pesawat. Masyarakat, menurut dia, berhak mengetahui komponen apa yang membuat tarif pesawat di Tanah Air tiba-tiba meningkat.

"Di Industri mungkin ada yang percaya walaupun harga tiket mahal tetap ada yang membeli. Maskapai seharusnya sadar kalau tiket mahal, pembeli juga sepi. Petugas bandara pun sudah bilang ada penurunan penumpang," ungkap dia.

Untuk itu, menurut dia, sudah sewajarnya maskapai menurunkan tarif pesawat. "Tak perlu Presiden Jokowi minta harga tiket pesawat turun, dan presiden juga sebenarnya tidak berhak mengatur tarif," terang dia. (agi/agi)