AKR Siap Saingi Pertamina Jualan Avtur

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 17:37 WIB
AKR Siap Saingi Pertamina Jualan Avtur Ilustrasi pengisian bahan bakar avtur pada pesawat. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT AKR Corporindo Tbk tengah bersiap untuk merambah bisnis penjualan avtur tahun ini. Hal itu dilakukan dengan menggandeng perusahaan energi BP Indonesia untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture).

"AKR sudah menandatangani JV (bisnis penjualan avtur) dengan BP," ujar Direktur Utama AKR Haryanto Adikoesoemo usai menghadiri konferensi pers Stasiun Pengisian Bahan Bakar Utama (SPBU) BP AKR Fuels Retails di Ritz Carlton Jakarta, Kamis (14/2).

Haryanto mengungkapkan saat ini perusahaan sedang dalam tahap persiapan untuk masuk ke bisnis yang selama ini dikuasai oleh PT Pertamina itu. Namun, Haryanto masih enggan berbicara lebih detail soal rencana dan target ke depan dari bisnis tersebut.



Mengutip situs resmi BP, BP melalui anak usaha di bisnis avtur Air BP telah menandatangani perjanjian pembentukan JV bersama AKR di bidang pelayanan jasa terkait bandar udara, khususnya pemasaran bahan bakar pesawat terbang di Indonesia pada November 2016 lalu. Sebagai tindak lanjutnya, pada 2017, kedua perusahaan telah membentuk perusahaan patungan PT Dirgantara PetroIndo Raya (Air BP-AKR Aviation). Namun, hingga kini bisnis penjualan avtur tersebut belum terdengar kelanjutannya.

Selanjutnya, pada 2017 lalu, kedua perusahaan juga telah membentuk JV untuk pengembangan bisnis BBM ritel di Indonesia melalui PT Aneka Petroindo Raya (APR). Melalui APR, BP dan AKR ini membangun 350 unit SPBU di Indonesia selama satu dekade ke depan. Saat ini, jumlah SPBU yang beroperasi baru 4 SPBU di Jakarta dan sekitarnya.

Ekspansi bisnis AKR-BP ini sejalan dengan keinginan pemerintahan Joko Widodo yang ingin agar bisnis avtur tidak dimonopoli oleh PT Pertamina (Persero).

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan sebenarnya pola bisnis avtur di Indonesia sama halnya dengan distribusi BBM di SPBU. Hanya saja, membutuhkan modal lebih besar karena biaya sewa di bandara mahal dan perlu didukung sarana pengisian yang berbeda dengan kendaraan di SPBU.


Komaidi mengungkapkan tidak ada larangan perusahaan lain untuk masuk ke bisnis pemasaran avtur di Indonesia. Namun, tantangannya, Pertamina sudah lebih dulu bermain sehingga sudah memiliki kerja sama dengan pelanggan maskapai yang loyal. Misalnya, Pertamina dan maskapai nasional Garuda Indonesia yang sama-sama perusahaan pelat merah akan bersinergi.

Salah satu perusahaan yang mundur setelah mencoba adalah Shell. Pada 2007 lalu, Shell pernah mencoba masuk memasarkan avtur di Bandara Soekarno-Hatta melalui Shell Aviation. Namun, dua tahun kemudian bisnis tersebut ditutup.

"Kalau maskapai sudah loyal dengan penyedia yang ada, misalnya Pertamina, Shell masuk otomatis sudah tidak ada market-nya karena segmennya kan sempit," terang dia. (sfr/agi)