JK Ungkap Alasan Avtur Jadi Monopoli Pertamina

CNN Indonesia | Selasa, 12/02/2019 20:54 WIB
JK Ungkap Alasan Avtur Jadi Monopoli Pertamina Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan mahalnya harga avtur tak lepas dari absennya badan usaha selain Pertamina yang punya fasilitas penyedia avtur di bandara. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan mahalnya harga avtur tak lepas dari tidak adanya badan usaha selain PT Pertamina (Persero) yang memiliki fasilitas penyedia avtur di bandara. Hal ini berbeda dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk sepeda motor atau mobil yang memiliki opsi selain Pertamina.

"Kalau BBM itu kan tidak monopoli lagi 100 persen, katakanlah Shell, dulu ada Petronas, AKR. Nah khusus avtur ini memang harus ada fasilitas di bandara, tapi tidak ada perusaaan lain (selain Pertamina) yang punya fasilitas di bandara," ujar JK di kantor wakil presiden Jakarta, Selasa (12/2).

Menurut dia, badan usaha selain Pertamina bisa saja membuat fasilitas penyedia avtur di bandara dengan melakukan investasi baru berupa pembangunan tangki. Namun hal itu harus melalui kajian yang rinci.


"Harus investasi tangkinya, apalah, macam-macam, dan harus diteliti dengan baik," katanya.


Di sisi lain, JK tak menampik harga avtur yang mahal menjadi penyebab kenaikan harga tiket pesawat oleh sejumlah maskapai penerbangan. Sebab, 35 persen ongkos pesawat berasal dari biaya avtur.

Kendati demikian, menurut JK, harga tiket pesawat di Indonesia masih jauh lebih murah dibandingkan harga tiket di negara-negara lain. Jika terlalu murah, JK khawatir maskapai akan mengalami kerugian dan berbuntut pailit.

"Kalau mau ditarik murah, sudah berapa airlines yang tutup? Ada Batavia dulu, kemudian Adam Air, Merpati, Mandala, Sempati, semua kan tutup bangkrut," terang JK.

Ia meminta agar semua pihak lebih bijak melihat kenaikan harga tiket pesawat. Pasalnya, harga tiket pesawat yang murah hanya akan bermanfaat dalam jangka pendek.


"Jadi jangan lihat dari segi menaikkan (harga tiket). Tapi lihat kalau tidak naik apa yang terjadi? Ya bangkrut ini perusahaan. Kalau bangkrut terus kalian nanti naik kapal laut lagi," imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pihaknya tengah mengkaji kemungkinan badan usaha selain Pertamina untuk menyediakan fasilitas avtur di bandara.

"Ya memang ada monopoli Pertamina. Kita buat besok coba yang lain juga jual, bukan cuma Pertamina. Presiden tidak mau monopoli, BUMN juga sudah dibilangin supaya enggak BUMN saja yang kerja," ucap Luhut.

Namun pembagian tugas dengan badan usaha lain ini harus dipikirkan secara matang mengingat Pertamina juga bertanggung jawab menyalurkan ke daerah terpencil.


"Nah itu harus dihitung. Kita enggak bisa juga bandingkan dengan Singapura. Enggak adil juga. Singapura kan cuma satu wilayah, kita banyak wilayah," katanya.

Seperti diketahui, Pertamina adalah satu-satunya perusahaan yang menjual avtur untuk seluruh maskapai dalam negeri. Jokowi bahkan menuding Pertamina melakukan monopoli avtur karena menjadi pemain sendiri di Indonesia.

"Besok pagi, saya akan undang Dirut Pertamina. Pilihannya hanya satu, harga (avtur) bisa sama dengan harga internasional tidak. Kalau tidak bisa, saya akan masukkan kompetitor lain, sehingga terjadi kompetisi. Karena ini memang mengganggu sekali," ucap Jokowi, kemarin.

Informasi yang diutarakan Jokowi sebenarnya bukan barang baru. Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Ari Askhara menjelaskan perusahaan penerbangan harus merogoh kocek lebih dalam berkisar 10 persen-16 persen apabila membeli avtur milik Pertamina di Indonesia. Sebaliknya, jika maskapai mengisi avtur di luar negeri, harganya jauh lebih murah.

"Pertamina kalau di luar negeri itu memberikan harga lebih murah sekitar dua persen dibandingkan dengan pesaingnya ke maskapai nasional. Jadi, perbedaan harganya dengan di Indonesia bisa sampai 16 persen," kata Ari, beberapa waktu lalu.

[Gambas:Video CNN] (pris/lav)