Perang Dagang Tak Pasti, Harga Minyak Capai Level Tertinggi

CNN Indonesia | Rabu, 20/02/2019 08:42 WIB
Perang Dagang Tak Pasti, Harga Minyak Capai Level Tertinggi Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi sepanjang 2019 pada perdagangan Selasa (19/2) waktu AS. Hal itu dipicu ketidakpastian atas putaran terakhir perundingan perdagangan AS-China melawan optimisme investor seputar pengetatan pasokan.

Minyak mentah AS naik 50 sen menjadi US$56,09 per barel, berada di level tertinggi sejak November 2018. Di sisi lain, minyak mentah Brent tergelincir 5 sen dan menetap di level US$66,45 per barel, atau di sedikit bawah level tertinggi tahun ini yang dicapai Senin (18/2) kemarin sebesar US$66,83.

Phil Flynn, Analis Price Futures Group yang berbasis di Chicago menilai sanksi Washington terhadap hasil minyak dari Venezuela, pemasok minyak mentah ke AS, telah mendorong kenaikan harga minyak AS di pasar berjangka.

"Dalam gambaran yang lebih besar, saya kira pasar mencari alasan untuk menindaklanjuti level harga, tetapi masih ada banyak pertanyaan seputar kesepakatan dagang AS-China dan ekonomi global," papar Flynn seperti dikutip dari Reuters.



Babak baru negosiasi antara AS dan China untuk menyelesaikan sengketa perdagangan dimulai pada Selasa (19/2) waktu AS, dengan diskusi tingkat tinggi yang direncanakan berlangsung akhir pekan ini.

Trader mengaku berhati-hati untuk mengambil posisi transaksi baru yang besar sebelum hasil pembicaraan berakhir.

Terkait prospek ekonomi, bank terbesar Eropa, HSBC, mensinyalkan penundaan beberapa investasi tahun ini karena perkiraan laba tahun ini meleset dari periode 2018 akibat perlambatan pertumbuhan di China dan Inggris.

Pekan lalu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan perkiraan permintaan minyak dunia pada 2019 menjadi 1,24 juta barel per hari.


"Mengingat gambaran ekonomi yang terus-menerus tidak pasti, prospek kami terhadap pertumbuhan permintaan minyak global yang sudah relatif bearish untuk 2019 di bawah 1 juta barel per hari dapat kembali direvisi turun," tulis analis JBC Energy.

Untuk menghentikan penumpukan persediaan yang dapat menurunkan harga, anggota OPEC, termasuk Rusia memulai pemangkasan pasokan baru 1,2 juta barel per hari pada 1 Januari 2019. Pemotongan tersebut telah mendorong harga minyak mentah naik lebih dari 20 persen.

[Gambas:Video CNN] (Reuters/lav)