BI Tahan Suku Bunga di Level 6 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 14:31 WIB
BI Tahan Suku Bunga di Level 6 Persen Gunbernur BI Perry Warjiyo menyatakan BI pada Rapat Dewan Gubernur 20-21 Februari memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6 persen. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) di posisi 6 persen pada bulan ini. Tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility juga dipertahankan di level 5,25 persen dan 6,75 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20-21 Februari 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRRR sebesar 6 persen," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Gedung BI, Kamis (21/2).

Perry menyatakan keputusan ini merupakan hasil pertimbangan bank sentral terhadap kondisi ekonomi di luar maupun dalam negeri. Dari luar negeri, kondisi perekonomian global diperkirakan masih akan melambat seiring penurunan ekonomi di beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat (AS) hingga China.


Ekonomi AS diperkirakan masih akan menurun karena pengaruh stimulus fiskal, struktural ketenagakerjaan, dan penurunan keyakinan pengusaha. Selain itu, normalisasi kebijakan moneter diperkirakan tetap seperti semula, di mana kenaikan bunga acuan lebih rendah dari asumsi awal.


Sementara ekonomi Eropa diperkirakan kembali melambat karena masalah struktural di kawasan tersebut, pelemahan ekspor, dan dampak ketidakpastian Brexit.

Begitu pula dengan China, yang diperkirakan tetap melambat karena pengaruh pelemahan ekspor dan permintaan domestik sebagai dampak perang dagang dan harga komoditas global yang menurun, seperti minyak mentah dunia.

Sementara dari dalam negeri, BI mempertimbangkan realisasi beberapa indikator ekonomi. Pertama, pertumbuhan ekonomi tanah air yang menyentuh angka 5,17 persen sepanjang 2018. Sedangkan pada tahun ini, ekonomi diperkirakan tumbuh di rentang 5,0-5,4 persen.

"Pertumbuhan ekonomi didukung permintaan domestik didukung konsumsi rumah tangga dan konsumsi lembaga non profit pendukung rumah tangga," jelasnya.


Kedua, neraca pembayaran Indonesia yang defisit senilai US$7,1 miliar pada tahun lalu. Hal ini karena defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$31,1 miliar atau 2,98 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan neraca transaksi modal dan finansial hanya surplus US$25,2 miliar.

"Hal ini ditopang oleh aliran modal asing yang terus mengalir ke Indonesia. Pada Januari 2019, aliran modal asing tercatat sebesar US$2,2 miliar," katanya.

Ketiga, neraca perdagangan. Sepanjang tahun lalu, neraca perdagangan mengalami defisit senilai US$8,57 miliar. Sementara pada Januari 2019, neraca perdagangan kembali defisit sebesar US$1,16 miliar.

Keempat, cadangan devisa. Sepanjang 2018, devisa Indonesia terkuras US$9,5 miliar dari US$130,2 miliar pada Desember 2017 menjadi US$120,7 miliar pada Desember 2018.


Penurunan cadangan devisa untuk pembayaran impor, utang luar negeri, hingga stabilisasi nilai tukar rupiah. Sementara pada Januari 2019, posisi cadangan devisa sebesar US$120,1 miliar.

Kelima, nilai tukar rupiah menguat 3,36 persen pada kuartal IV 2018 dibandingkan kuartal III 2018. Bahkan, penguatan rupiah terus berlangsung pada Januari 2019 sebesar 0,32 persen secara bulanan dan 2,82 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Tren penguatan di 2019 ditopang oleh aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik, seiring terjaganya fundamental dan daya tarik -pasar keuangan domestik," terangnya.

Keenam, inflasi. Tingkat inflasi tahunan berada di angka 3,13 persen sepanjang 2018. Sementara pada dua bulan pertama tahun ini, inflasi tahunan sebesar 3,03 persen pada Januari 2019. Lalu, turun menjadi 2,72 persen pada Februari 2019.

Ketujuh, intermediasi perbankan. BI mencatat rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 22,9 persen dan AL/DPK di 19,3 persen pada Desember 2018.

Lebih lanjut, pertumbuhan kredit bank sebesar 11,75 persen, dan pertumbuhan DPK 6,5 persen pada periode yang sama. Sementara rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross sebesar 2,4 persen dan NPL net 1,0 persen.

Sedangkan pembiayaan di pasar modal dalam instrumen saham, obligasi, dan lainnya yang mencatatkan nilai Rp207,8 triliun sepanjang 2018.

(uli/agt)