Rupiah Lunglai ke Rp14.072 per Dolar AS Gara-Gara The Fed

CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 16:51 WIB
Rupiah Lunglai ke Rp14.072 per Dolar AS Gara-Gara The Fed Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (21/2) sore berada di level Rp14.072 per dolar AS. Dengan posisi tersebut, rupiah melemah 0,2 persen dibandingkan penutupan pada Rabu (20/2) yakni Rp14.044 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.057 per dolar AS, atau melemah tipis dibanding kemarin yang Rp14.055 per dolar AS.

Sore hari ini, mata uang utama Asia tercatat melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,28 persen, sementara peso Filipina melemah sebesar 0,27 persen. Kemudian, won Korea Selatan dan ringgit Malaysia masing-masing melemah sebesar 0,15 persen dan 0,14 persen. Terakhir, dolar Singapura juga tercatat melemah 0,04 persen.


Kendati demikian, beberapa mata uang utama Asia tercatat mengalami penguatan, seperti dolar Hong Kong yang menguat 0,02 persen, rupee India yang menguat 0,04 persen, dan yuan China yang menguat 0,1 persen. Juara di Asia kali ini diraih oleh yen Jepang yang menunjukkan penguatan 0,12 persen.


Di sisi lain, mata uang negara maju bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Euro, contohnya, tercatat menguat 0,14 persen sementara poundsterling Inggris menggagahi dolar AS dengan penguatan 0,2 persen. Hanya saja, dolar Australia terbilang melemah 0,77 persen terhadap dolar AS pada hari ini.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih terpengaruh oleh risalah tim Federal Open Market Commitee (FOMC) pada Rabu (21/2) malam. Di dalam pertemuan itu, petinggi bank sentral AS The Fed masih menakar perlu tidaknya kenaikan suku bunga acuan Fed Rate di tahun ini.
Padahal sebelumnya, Gubernur The Fed Jerome Powell menyebut The Fed akan lebih sabar dalam melakukan kebijakan moneter tahun ini. Sehingga, ini kembali membuka potensi kenaikan Fed Rate minimal satu kali pada tahun ini yang kemungkinan terjadi akhir tahun nanti.

"Dan di dalam risalah The Fed juga diumumkan bahwa mereka meneliti lebih lanjut, ternyata ekonomi AS diprediksi tidak akan seburuk yang diperkirakan," jelas Ariston kepada CNNIndonesia.com, Kamis (21/2).

Ariston mengatakan tidak ada sentimen domestik berarti dari dalam negeri yang menyokong pergerakan rupiah hari ini. Sikap Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate di angka 6 persen tak berpengaruh apapun terhadap rupiah.
(glh/agt)