Negosiasi Perang Dagang Picu Harga Minyak Kembali Melonjak

CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 08:01 WIB
Negosiasi Perang Dagang Picu Harga Minyak Kembali Melonjak Ilustrasi. (REUTERS/Sergei Karpukhin).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah naik sekitar 1 persen ke level tertinggi 2019 pada perdagangan Rabu (20/2), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan disebabkan oleh harapan terhadap keseimbangan pasar minyak dunia bakal terjadi tahun ini.

Dilansir dari Reuters, Kamis (21/2), harga minyak mentah berjangka Brent naik sebesar US$0,63 atau 0,95 persen menjadi US$67,08 per barel.

Kemudian, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik US$0,83 atau 1,48 persen menjadi US$56,92 per barel. Kontrak minyak WTI untuk pengiriman April yang lebih aktif naik US0,71 atau 1,38 persen menjadi US$57,16 per barel.


Pada awal sesi perdagangan, ketakutan pasar terhadap berjalannya negosiasi perdagangan antara AS dan China telah menekan harga minyak. Namun, sentimen pasar berbalik setelah menangkap sinyal kemajuan dari pembicaraan perdagangan tersebut pada Rabu (20/2) kemarin. Sinyal tersebut memperkuat pasar modal secara umum.


Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi dengan China berjalan lancar. Trump juga mengindikasikan bakal memperpanjang tenggat waktu penyelesaiannya lebih lama dari sebelumnya pada 1 Maret 2019. Sebelumnya, jika kedua belah pihak tidak bisa mencapai kata sepakat paling lambat 1 Maret 2019, AS bakal mengerek tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap produk China senilai US$200 miliar.

"Kami di pasar menunggu pemberitaan besar berikutnya yang akan menggerakkan pasae lebih tinggi atau lebih rendah," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Menurut Flynn, pembicaraan perdagangan AS-China merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Wakil Kepala Riset Pasae Tradition Energy Gene McGillian menilai kenaikan harga minyak ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir di pasar pekan ini berkat ekspektasi pengetatan pasokan.


"OPEC dan Rusia tengah melakukan pemangkasan dan kekhawatiran terhadap berkurangnya ekspor Venezuela telah membantu mengerek harga," ujar McGillian di Stamford, Connecticut.

OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat memangkas produksinya sebesar 1,2 juta barel per hari (bph). Aliansi yang dikenal dengan sebutan OPEC+ itu mulai mengimplementasikan kebijakan itu sejak 1 Januari 2019.

Pada Rabu (20/2), sumber Reuters yang berasal dari delegasi OPEC+ menyatakan komite pengawas OPEC+ mencatat kepatuhan aliansi terhadap kesepakatan pemangkasan tersebut sebesar 83 persen.

Menteri Energi Arab Saudi Khalif al-Falih berharap pasar minyak akan seimbang pada April 2019. Al-falih juga berharap tidak ada kekurangan pasokan akibat pengenaan sanksi AS terhadap Venezuela atau Iran.


"Anda dapat melihat itu sebagai sinyal bahwa Arab Saudi akan melanjutkan pendekatan proaktif," ujar Direktur Utama Lipow Oil Associates Andy Lippow di Houston.

Selain itu, beberapa gangguan pasokan telah membuat pasokan mengetat lebih jauh.

Pekan lalu, perusahaan minyak pelat merah Arab Saudi Aramco menutup sebagian lapangan minyak lepas pantai Safaniyah setelah kabel listriknya putus. Kemudian, produksi minyak dari Lapangan El Sharara di Libya telah tertahan sejak Desember 2018.

Pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela juga turut mengurangi ketersediaan minyak mentah di pasar global.


Di sisi lain, kenaikan harga minyak terbatas. Pasalnya, gangguan pasokan diimbangi oleh ekspektasi kenaikan stok di AS. Hal itu menyusul penurunan tajam dari utilisasi kapasitas kilang di Midwest AS.

Survei Reuters memperkirakan stok minyak mentah bakal menanjak 3,1 juta barel pekan lalu, kenaikan lima pekan berturut-turut.

Analis memperkirakan persediaan minyak di hub penyimpanan utama AS Cushing, Oklahoma, bakal menanjak karena data menunjukkan utilisasi kapasitas kilang di Midwest AS turun dari 92,9 persen menjadi 84,2 persen pada pekan sebelumnya. Hal itu terjadi karena serangkaian gangguan pada listrik baik yang direncanakan maupun tidak.

Pada Selasa (19/2) lalu, Badan Administrasi Energi AS menyatakan produksi minyak shale akan menyentuh rekor tertinggi pada bulan depan sebesar 8,4 juta bph. Hal itu mengindikasikan sedikit perubahan pada perlambatan produksi minyak mentah AS dalam waktu dekat.


BNP Paribas menyatakan melesatnya produksi minyak AS akan menekan harga hingga akhir tahun. BNP Paribas memperkirakan rata-rata harga Brent bakal merosot ke level US$67 pada kuartal keempat dan WTI ke rata-rata US$61 per barel.

"Pertumbuhan produksi minyak AS yang digerakkan oleh minyak shale akan diekspor ke pasar internasional dengan volume yang lebih besar sementara perekonomian global diperkirakan akan menyaksikan perlambatan pertumbuhan yang tersinkronisasi," ujar BNP Paribas dalam catatannya. (sfr/lav)