Dalam gelar wicara Outlook Ekonomi CNBC Indonesia, Kamis (28/2), JK, sapaan akrabnya, menjelaskan alasan dirinya mengungkapkan sejumlah kritik terhadap pihaknya sendiri. Dia mengaku berusaha bersikap objektif agar pemerintah menjadi lebih baik.
"Saya ingin berada di posisi objektif, pemerintah juga bisa keliru sehingga pemerintah harus terus memperbaiki," ungkap JK, Kamis (28/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makin banyak jalan tol, hampir semua daerah kesulitan karena orang jadi tidak beli oleh-oleh. Jadi harus berpikir dan membuat tindakan agar lebih baik," katanya.
"Secara bisnis pasti kalah, tapi secara ekonomi akan menguntungkan. Jadi saya meluruskan logika. Saya sudah mengkritik ini sejak tiga tahun lalu ketika proyek mau jalan," ungkapnya.
LRT di Palembang pun demikian. JK menjelaskan semula Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang mengajukan izin pembangunan. Namun akhirnya tidak berjalan baik dan pemerintah yang menanggung proyek tersebut.
Sebelumnya, JK berkali-kali mengkritik pembangunan LRT di Indonesia, baik di Jakarta maupun Palembang.
JK menilai pembangunan LRT Jakarta yang melayani jalur Jabodebek tak efisien karena berada di samping jalan tol. Akibatnya jalan tol tidak bisa diperlebar karena ada tiang di sampingnya.
Selain itu, JK juga menilai pembangunan LRT di Palembang tak efisien. Menurut dia, pembangunan transportasi di daerah mestinya dikaji dengan matang agar bermanfaat dari aspek teknis maupun ekonomis. Jika tidak, pembangunan LRT itu hanya akan membuat pemerintah merugi.
"Ini tanggung jawab kita semua untuk melihat itu sebagai bagian dari evaluasi. Jadi (jangan hanya) meningkatkan infrastruktur, tapi juga manfaatnya bagaimana," katanya.
Selain LRT Palembang, JK juga mengkritik pembangunan jalur kereta api Trans Sulawesi yang mulai beroperasi sejak akhir 2018. Menurut mantan Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu, pembangunan jalur kereta api di wilayah tersebut tak efisien seperti jalur kereta api di Pulau Jawa. Jumlah orang dan barang yang akan diangkut di Sulawesi lebih sedikit ketimbang di Pulau Jawa. (lav/rim/lav)