Italia akan Gabung Program Jalur Sutera Modern China

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 22:07 WIB
Italia akan Gabung Program Jalur Sutera Modern China Pertemuan Forum Belt and Road di China beberapa waktu lalu. (Biro Pers Setpres/ Laily Rachev)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Italia akan menandatangani nota kesepakatan untuk ikut serta dalam program pengembangan Jalur Sutera modern atau Belt and Road Initiative yang saat ini sedang dijalankan China. Dikutip dari Reuters, saat ini mereka sedang melakukan negosiasi dengan China.

"Negosiasi belum selesai, tapi mungkin disimpulkan saat kunjungan Presiden Xi Jinping," kata Wakil Menteri Pelayanan Pengembangan Ekonomi Italia Michele Geraci seperti dikutip dari Reuters, Rabu (6/3).

Keinginan Italia tersebut memancing reaksi dari Amerika Serikat. Mereka memandang keikutsertaan tersebut secara ekonomi tidak akan membantu ekonomi Italia.


Rencana tersebut kata mereka, justru bisa merusak citra Italia di mata internasional."Kami melihat Belt and Road Initiative ini sebagai 'Dibuat China dan Inisiatif untuk China'," kata Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Garrett Marquis. 


Program pengembangan Jalur Sutera modern digagas oleh Presiden Xi Jinping. Program ini diumumkannya saat kunjungan kenegaraannya ke Indonesia dan Kazakhstan pada 2013 lalu.

Program bertujuan untuk mengaitkan China dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Tengah, Timur Tengah, Eropa dan Afrika melalui jalur laut dan darat. Program tersebut dijalankan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi.

Selain itu, program tersebut juga dijalankan untuk mempermudah pertukaran ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan pendidikan. Untuk mewujudkan ambisinya tersebut China siap menggelontorkan dana US$124 miliar atau sekitar Rp1.600 triliun.

[Gambas:Video CNN]

Dana tersebut bisa dipinjam oleh negara yang mau membangun infrastruktur tapi tidak memiliki anggaran yang cukup. Beberapa negara sudah memanfaatkan pinjaman tersebut. Salah satunya Pakistan yang sudah menerima pendanaan senilai US$62 miliar.

Indonesia juga turut menikmati pembiayaan dari China untuk pembangunan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.



(Reuters/agt)