Dongkrak Harga, RI Pangkas Ekspor Karet 98 Ribu Ton

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 20:55 WIB
Dongkrak Harga, RI Pangkas Ekspor Karet 98 Ribu Ton Ilustrasi karet. (Kham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia bakal membatasi ekspor karet sebesar 98 ribu ton selama empat bulan terhitung mulai 1 April 2019. Kebijakan itu merupakan bagian dari kesepakatan Konsul Karet Tripartit Internasional (ITRC) untuk mendongkrak harga karet di pasaran. ITRC beranggotakan tiga negara produsen karet yaitu Indonesia, Thailand dan Malaysia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan ITRC telah menyepakati skema pengaturan ekspor (Agreed Export Tonnage Scheme/AETS) melalui pemangkasan ekspor karet sebesar 240 ribu ton. Keputusan ini diambil dalam Pertemuan Pejabat Tinggi (Senior Official Meeting) ITRC di Thailand pada 4 Maret 2019 lalu.

"Hasil pertemuan ITRC sudah disepakati bahwa, AETS-nya 240 ribu ton berlaku efektif mulai 1 April, tetapi Thailand minta berlakunya setelah kabinet terbaru karena (Thailand) mau pemilu 24 Maret 2019," ujar Darmin di kantornya, Rabu (6/3).



Darmin mengungkapkan Thailand selaku produsen karet terbesar di dunia akan memangkas ekspornya sebesar 120 ribu ton. Sementara, sekitar 22 ribu ton sisanya bakal dilakukan oleh Malaysia.

Dalam wawancara terpisah, Darmin mengungkapkan pemangkasan ekspor merupakan solusi jangka pendek untuk mengerek harga karet. Saat ini, harga karet masih berada di bawah level fundamentalnya sejak tahun lalu.

Berdasarkan data Tokyo Commodity Exchange (TOCOM) harga karet pada perdagangan hari ini masih berada di level 195,9 yen Jepang per kilogram (kg). Padahal, pada 2017, rata-rata harga karet masih berada di atas 200 yen Jepang per kg. Bahkan, pada saat booming komiditas pada 2011 lalu, harga karet bisa di atas 500 yen Jepang per kg. Pada November 2018, harga karet terpuruk hingga ke level 132,1 yen Jepang per kg.


Untuk jangka menengah, ketiga negara akan menjalankan skema mendorong permintaan (Demand Promotion Scheme/DPS) di dalam negeri. Selanjutnya, untuk jangka panjang, pemerintah akan melakukan percepatan peremajaan (replanting) karet alam (Supply Management Scheme/SMS).

Tertekannya harga karet di pasar global terjadi karena pasar berjangka di bursa komoditi dunia, salah satunya Shanghai, menganggap pasokan karet membanjir.

Padahal, tahun lalu, pasar karet dunia hanya surplus 167 ribu ton yang berasal dari pasokan yang berkisar 13,5 juta ton dan konsumsi yang berkisar 13,4 juta ton.

Sebagai informasi, berdasarkan data Kementerian Pertanian, realisasi sementara produksi karet pada 2018 mencapai 3,76 juta ton. Tahun ini, pemerintah menargetkan produksi karet bisa mencapai 3,81 juta ton atau naik 1,3 persen dari realisasi tahun lalu. (sfr/agi)