REKOMENDASI SAHAM

Saham Bank dan Barang Konsumsi Agresif Layak Dikoleksi

CNN Indonesia | Senin, 11/03/2019 10:12 WIB
Saham Bank dan Barang Konsumsi Agresif Layak Dikoleksi Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Isu akuisisi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk  terhadap bank nasional serta aktivitas ekspor PT Mayora Tbk yang agresif menjadi indikator dua saham emiten ini dianggap layak dikoleksi dalam waktu dekat.

Isu Bank Mandiri yang dikabarkan ingin mencaplok Bank Permata Tbk sukses membuat harga saham Bank Mandiri semakin atraktif pekan lalu. Hal tersebut khususnya terjadi pada 6 Maret 2019 kemarin.

Harga saham bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu masih bergerak di area Rp6.000 pada 5 Maret 2019. Keesokan harinya, harga saham Bank Mandiri tembus ke area Rp7.000 per saham. Sayang, kondisi itu tak bertahan lama karena akhir pekan lalu, harga saham kembali turun dan berakhir di level Rp6.900 per saham.


Kendati demikian, pelaku pasar bisa pasang kuda-kuda untuk melakukan akumulasi beli saham Bank Mandiri pekan ini. Pasalnya, isu Bank Mandiri yang akan mengakuisisi Bank Permata akan membawa dampak positif untuk bank berlogo pita emas tersebut.

"Ini rumor lama ya sebenarnya tapi bisa jadi rekomendasi karena Bank Mandiri kinerjanya pasti meningkat, Bank Permata sebagai pihak yang diakuisisi juga kinerjanya sudah lebih baik," ucap Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas kepada CNNIndonesia.com, Senin (11/3).

Pada awal tahun ini, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo memang sudah berkali-kali mengatakan pihaknya akan mengakuisisi bank lain karena memiliki kelebihan modal Rp30 triliun-Rp35 triliun. Namun, ia masih merahasiakan bank mana yang akan diambil alih.


Hal yang pasti, Kartika sempat menyebut manajemen mengincar bank yang fokus pada penyaluran kredit segmen kelas menengah atau small medium enterprise (SME). Sebab, penyaluran kredit Bank Mandiri pada segmen itu turun pada 2018.

"Untuk kredit segmen kelas menengah tidak terlalu kuat, jadi kami mau bank yang memiliki kemampuan khususnya di segmen itu," ucap Kartika pada Januari lalu.

Porsi kredit Bank Mandiri segmen kelas menengah sepanjang tahun lalu turun menjadi hanya 56,8 persen dari 2017 yang sempat berkontribusi 61,6 persen dari total kredit. Secara keseluruhan, Bank Mandiri menyalurkan kredit sebesar Rp820,1 triliun pada 2018, naik 12,4 persen dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya.

Dari sisi laba bersih, perusahaan mencatatkan pertumbuhan 21,2 persen. Walhasil, Bank Mandiri membukukan keuntungan sebesar Rp25 triliun dari posisi 2017 sebesar Rp20,6 triliun.

Sementara itu, Bank Permata meraup laba bersih sebesar Rp901,25 miliar pada 2018. Angka itu naik 20,41 persen dari sebelumnya Rp748,43 miliar.


"Kalau sudah dikonsolidasikan pasti meningkat keuangan Bank Mandiri, perusahaan juga akan mendapatkan pasar baru untuk penyaluran kredit," papar Sukarno.

Dengan rumor seperti ini, Sukarno meramalkan harga saham Bank Mandiri pekan ini bisa menyentuh level Rp7.175 per saham. Itu artinya, saham perusahaan bakal meningkat 3,98 persen dari pekan lalu.

Di sisi lain, Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo menyarankan pelaku pasar lebih sabar untuk membeli saham Bank Mandiri. Masalahnya, saham tersebut masih berpotensi turun ke level Rp6.400 per saham awal pekan ini.

"Ini saham bagus tapi coba tunggu dulu, kalau harga turun lagi kan pelaku pasar bisa membeli dengan harga lebih murah. Coba tunggu sampai mendekati angka Rp6.400 per saham," ungkap Wisnu.

Wisnu mengatakan pelemahan saham Bank Mandiri yang terjadi sejak Jumat (8/3) lalu karena terseret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga melorot lebih dari 1 persen. Dalam hal ini, saham perbankan memiliki bobot yang tinggi di pasar saham dalam negeri. Dengan demikian, pergerakannya akan selalu sejalan dengan IHSG.


"Jumat kemarin turun parah kan sampai 2 persen lebih (saham Bank Mandiri), sentimennya karena IHSG yang turun juga," jelas Wisnu.

Untuk jangka panjang, Wisnu memprediksi saham Bank Mandiri bisa mendarat di area Rp8.500 per saham. Bila dibandingkan dengan penutupan akhir Desember 2018 di level Rp7.375 per saham, artinya saham itu berpeluang melesat 15,25 persen secara tahunan.

Berkah Ekspor Saham Mayora

Selain Bank Mandiri, Wisnu menyarankan pelaku pasar untuk mencermati saham PT Bank Mayora Indah Tbk (MYOR). Perusahaan yang bergerak di sektor barang dan konsumsi ini gencar melebarkan sayap ke berbagai negara dalam memasarkan produknya.

"Ekspor Mayora Indah komposisinya mencapai 50 persen, sisanya 50 persen lagi domestik," terang Wisnu.

Pada Februari 2019, Mayora Indah mengekspor produk kopi ke Filipina dengan nilai US$50 ribu dengan jumlah 2.500 kemasan kopi yang diproduksi perusahaan. Filipina sendiri sebenarnya bukan satu-satunya tujuan ekspor Mayora Indah.


Sejauh ini perusahaan sudah memasarkan produknya ke lebih dari 100 negara. Beberapa contohnya, Amerika Serikat (AS), Rusia, Timur Tengah, Irak, Palestina, dan Lebanon.

Sebelumnya, Direktur Mayora Grup Andre Atmadja menyatakan perusahaan menargetkan dapat meraup US$40 juta dari penjualan produk ke Rusia tahun ini. Angka itu meningkat dua kali lipat dari realisasi ekspor ke Rusia sepanjang 2018 yang sebesar US$20 juta.

Wisnu berpendapat, sikap agresif perusahaan dalam melakukan ekspor akan terus menggenjot kinerja keuangannya tahun ini. Sebagai gambaran, Mayora Indah membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 21,34 persen menjadi Rp17,34 triliun dan laba bersih 18,55 persen menjadi Rp1,1 triliun.

Sementara itu, harga saham Mayora Indah sepanjang pekan lalu bergerak stagnan di level Rp2.630 per saham. Untuk tahun ini, Wisnu memproyeksi harga saham tersebut bisa melesat ke level Rp3.200 per saham.

(aud/lav)